Monday, 17 November 2014

Secuil Kisah di Lampu Merah

Sebuah kisah yang mungkin biasa saja tetapi menjadi luar biasa setelah kita paham makna di baliknya.  Kisah ini juga bukan sekedar bualan belaka.  Cobalah perhatikan sekitar anda saat berhenti di lampu merah Jakarta dan sekitarnya.

Matanya berbinar setiap ada pengemudi yang mengulurkan tangannya keluar.  Sudah pasti ada lembaran lusuh ribuan yang bisa dikumpulkan untuk makan hari ini.  Tak dirasakannya peluh yang mengucur membasahi tangannya yang buntung dan kakinya yang hilang separuh. Tak dipedulikannya panas menyengat kepalanya yang beruban dan tak bertopi.  Saat lampu lalu lintas beranjak hijau, tertatih-tatih tubuhnya diseret menjauhi jalan.  Duduk di rumput yang diselimuti debu ibukota, tangannya gemetar menghitung receh yang dikumpulkan.  Matanya nanar melihat ribuan itu belum mencapai sepuluh ribu.  Pikirannya melayang kepada si nenek dan cucu kecilnya yang ditinggal di rumah gubuknya.  “Hanya cukup untuk beli 1 kilo beras”, pikirnya nelangsa.  Padahal si nenek perlu beli obat untuk batuknya yang sudah cukup parah.  Cucunya yang baru berumur 5 tahun sudah mulai minta sekolah setelah melihat teman-temannya di lingkungan pemulung semua bersekolah.

Pikirannya melayang-layang seperti daun kering tertiup angin.  Terbayang anak dan menantunya yang telah pergi selama-lamanya karena tragedi kereta.  Terbayang dirinya saat kehilangan lengan dan separuh kakinya pada saat bekerja di penggilingan.  Terbayang istrinya yang bekerja menjadi pemulung menggantikan dirinya yang sudah tidak mungkin lagi diterima bekerja di mana-mana.  Terbayang betapa sulitnya mendapatkan pengobatan saat istrinya mulai terjangkit TBC dua tahun yang lalu.  Dia tahu betapa tidak terhormatnya menjadi pengemis.  Tapi apalah daya.  Dunia memang tidak ramah kepada orang-orang cacat.  Negara yang dicintainya terlalu sibuk mendamaikan pertengkaran politik para penguasa sehingga lupa memperhatikan orang kecil seperti dia.  Untuk datang ke perempatan lampu merah inipun dia harus bekerja keras menyeret tongkat yang menyangga kakinya yang tinggal satu.  Dia masih bersyukur mempunyai cucu kecilnya yang lincah dan cerewet.  Dia bersyukur masih ada orang-orang yang rela menyisihkan uang recehnya di perempatan ini.  Dia bersyukur bahwa negaranya juga bukan lagi digolongkan sebagai negara miskin.  Negara sangat berkembang malah.  Dia berharap suatu saat negara benar-benar berpaling dan melihat kepada orang-orang yang bernasib seperti dia.  Peduli dan mengulurkan tangan memberikan perhatian.  Dia yakin bahwa negara ini sebenarnya kaya harta dan kaya budi.  Hanya saja masih tertutupi oleh gejolak dan perebutan kekuasaan dan kursi. 

Lamunannya tersentak ketika bulir-bulir air hujan mulai membasahi dahinya.  Terseok-seok dicobanya menggapai pinggiran kerumunan palem.  Memang tak sepenuhnya melindungi dari hujan.  Tapi tak apalah.  Toh basah kuyup karena hujan dan mandi keringat adalah kesehariannya.  Yang penting tidak terlalu jauh dari perempatan lampu merah.  Tempatnya mencari nafkah.  Kemudian matanya tertuju pada mobil mewah berplat merah.  Sepertinya seorang pejabat penting.  Dengan susah payah melawan ketidakberdayaan fisik dan terpaan hujan, dicobanya mengetuk jendela kaca mobil itu.  Dia tidak bisa melihat ke dalam mobil karena kacanya sangat gelap.  Tapi jemarinya mencoba beberapa kali mengetuk jendela.  Entah karena derasnya hujan atau memang dirinya tidak terlihat, usahanya sia-sia.  Dengan mengambil nafas panjang dia beralih ke mobil berikutnya.  Sebuah pikap reyot pengangkut sayuran rupanya.  Kaca jendelanya terbuka sedikit.  Dicobanya mengetuk pintu mobil.  Dia tidak berharap banyak.  Kaca jendela itu turun.  Terulurlah lengan tua tapi tegap.  Sebungkus roti dan aqua gelas ada di tangannya.  Dengan penuh anggukan terimakasih dia menerima pemberian tersebut.  Tuhan maha adil pikirnya.  Orang penting dan kaya tidak peduli pada pahala, sedangkan orang kecil sangat perhatian kepada sesama.

Aku yang terhanyut oleh kisah di atas kemudian menggadaikan angan-anganku di atas para-para.  Di mana negara ini saat perempatan jalan dipenuhi oleh para nestapa yang mengais nafkah dari iba?  Di mana negara ini ketika para jelata mencoba berobat tapi tidak diterima?  Di mana negara ini kala anak-anak kecil dan lusuh, tidak bisa sekolah,  berlarian di sekitar perempatan mencari derma?  Di mana negara ini berada?

  

No comments:

Post a Comment