Sebuah kisah yang mungkin biasa saja tetapi menjadi luar biasa setelah
kita paham makna di baliknya. Kisah ini
juga bukan sekedar bualan belaka.
Cobalah perhatikan sekitar anda saat berhenti di lampu merah Jakarta dan
sekitarnya.
Matanya berbinar setiap ada
pengemudi yang mengulurkan tangannya keluar.
Sudah pasti ada lembaran lusuh ribuan yang bisa dikumpulkan untuk makan
hari ini. Tak dirasakannya peluh yang
mengucur membasahi tangannya yang buntung dan kakinya yang hilang separuh. Tak
dipedulikannya panas menyengat kepalanya yang beruban dan tak bertopi. Saat lampu lalu lintas beranjak hijau,
tertatih-tatih tubuhnya diseret menjauhi jalan.
Duduk di rumput yang diselimuti debu ibukota,
tangannya gemetar menghitung receh yang dikumpulkan. Matanya nanar melihat ribuan itu belum
mencapai sepuluh ribu. Pikirannya
melayang kepada si nenek dan cucu kecilnya yang ditinggal di rumah
gubuknya. “Hanya cukup untuk beli 1 kilo
beras”, pikirnya nelangsa. Padahal si
nenek perlu beli obat untuk batuknya yang sudah cukup parah. Cucunya yang baru berumur 5 tahun sudah mulai
minta sekolah setelah melihat teman-temannya di lingkungan pemulung semua bersekolah.
Pikirannya melayang-layang
seperti daun kering tertiup angin. Terbayang
anak dan menantunya yang telah pergi selama-lamanya karena tragedi kereta. Terbayang dirinya saat kehilangan lengan dan
separuh kakinya pada saat bekerja di penggilingan. Terbayang istrinya yang bekerja menjadi pemulung
menggantikan dirinya yang sudah tidak mungkin lagi diterima bekerja di
mana-mana. Terbayang betapa sulitnya
mendapatkan pengobatan saat istrinya mulai terjangkit TBC dua tahun yang
lalu. Dia tahu betapa tidak terhormatnya
menjadi pengemis. Tapi apalah daya. Dunia memang tidak ramah kepada orang-orang cacat. Negara yang dicintainya terlalu sibuk mendamaikan
pertengkaran politik para penguasa sehingga lupa memperhatikan orang kecil
seperti dia. Untuk datang ke perempatan
lampu merah inipun dia harus bekerja keras menyeret tongkat yang menyangga
kakinya yang tinggal satu. Dia masih
bersyukur mempunyai cucu kecilnya yang lincah dan cerewet. Dia bersyukur masih ada orang-orang yang rela
menyisihkan uang recehnya di perempatan ini.
Dia bersyukur bahwa negaranya juga bukan lagi digolongkan sebagai negara
miskin. Negara sangat berkembang
malah. Dia berharap suatu saat negara benar-benar
berpaling dan melihat kepada orang-orang yang bernasib seperti dia. Peduli dan mengulurkan tangan memberikan
perhatian. Dia yakin bahwa negara ini
sebenarnya kaya harta dan kaya budi.
Hanya saja masih tertutupi oleh gejolak dan perebutan kekuasaan dan
kursi.
Lamunannya tersentak ketika bulir-bulir
air hujan mulai membasahi dahinya.
Terseok-seok dicobanya menggapai pinggiran kerumunan palem. Memang tak sepenuhnya melindungi dari hujan. Tapi tak apalah. Toh basah kuyup karena hujan dan mandi keringat
adalah kesehariannya. Yang penting tidak
terlalu jauh dari perempatan lampu merah.
Tempatnya mencari nafkah. Kemudian
matanya tertuju pada mobil mewah berplat merah.
Sepertinya seorang pejabat penting.
Dengan susah payah melawan ketidakberdayaan fisik dan terpaan hujan,
dicobanya mengetuk jendela kaca mobil itu.
Dia tidak bisa melihat ke dalam mobil karena kacanya sangat gelap. Tapi jemarinya mencoba beberapa kali mengetuk
jendela. Entah karena derasnya hujan
atau memang dirinya tidak terlihat, usahanya sia-sia. Dengan mengambil nafas panjang dia beralih ke
mobil berikutnya. Sebuah pikap reyot
pengangkut sayuran rupanya. Kaca
jendelanya terbuka sedikit. Dicobanya
mengetuk pintu mobil. Dia tidak berharap
banyak. Kaca jendela itu turun. Terulurlah lengan tua tapi tegap. Sebungkus roti dan aqua gelas ada di
tangannya. Dengan penuh anggukan
terimakasih dia menerima pemberian tersebut.
Tuhan maha adil pikirnya. Orang penting
dan kaya tidak peduli pada pahala, sedangkan orang kecil sangat perhatian
kepada sesama.
Aku yang terhanyut oleh kisah di
atas kemudian menggadaikan angan-anganku di atas para-para. Di mana negara ini saat perempatan jalan dipenuhi
oleh para nestapa yang mengais nafkah dari iba?
Di mana negara ini ketika para jelata mencoba berobat tapi tidak
diterima? Di mana negara ini kala
anak-anak kecil dan lusuh, tidak bisa sekolah, berlarian di sekitar perempatan mencari derma? Di mana negara ini berada?
No comments:
Post a Comment