Sunday, 16 November 2014

Sang Merapi

Berdiri tegak menggapai kaki awan
Berbedak kabut tipis yg enggan bertebaran
Kokohmu tengadah sampaikan keteguhan

Pinggang gemulai menari sepi
Terikat selendang embun yg tak mau pergi
Cantikmu adalah janji seribu peri

Leher jenjang memagut kesendirian
Menantang malam halau kegelapan
Hikayatmu terbentang menikahi jaman

Barangkali ada bidadari
Harapkan kau taklukkan pagi
Sehingga siang tak lagi bermimpi

Mungkin ada cerita tak tertulis
Sebab kau tak mau teteskan tangis
Lelah menyapa pun kau tepis

Sang Merapi dongakkan kepala
Sampaikan pesan kepada angkara
Bahwa bumi ini makin sepi
Dari luruhnya kebajikan hati

Sang Merapi tegakkan telinga
Mendengar bisikan dari tangga surga
Bahwa bumi kini menolak untuk tertawa
Tak ada lagi canda pelepas dahaga

Sang Merapi beranjak ke peraduan
Menata jiwanya di antara keraguan
Hanya percaya pada satu harapan
Bahwa welas asih adalah roh dari kerendah hatian
Bahwa keberanian terlahir sebagai rasa hormat terhadap kebenaran


Lereng Merapi, Juni 2014

No comments:

Post a Comment