Saturday, 13 August 2016

Kisah Air dan Api-Satu Benang

Kita ini seperti diciptakan dari satu benang. Bergabung dalam satu tenunan, menerbangkan layang layang dalam satu gulungan. Serat yang menyusun pun berwarna sama terang. Dengan kekuatan tarik dan ulur yang sama seimbang.

Kita ini dilahirkan dari satu rahim alam. Bergumul dengan kumalnya sungai dan lautan. Menggurat langit dan bulan yang termenung kesepian. Membuat surat bernada cinta kepada geram dan kusam.

Kita ini dipertemukan oleh bibir kawah berapi dan puncak puncak awan. Mencari melati di antara bulu bulu jerami yang beterbangan. Menemukannya telah menjadi seikat kenangan. Bersumpah janji akan memberikan tanah petani, segunung kesuburan, sesamudera kebaikan, sesumur kebajikan.


Semarang, 23 Juni 2016
Tuliskan Kata Kata

Duuuuhh Gusti. Sunyi sepertinya mau menyapa aku lagi. Itu gelap...perlahan lahan mulai mendekat. Membawa tali bersulur duri. Untuk mengikatku malam ini. Agar tak mengejar bidadari yang sedang bernafas api.
Kemarahannya menggores sebelah jantungku. Untung saja cuma sebelah yang terlukai. Karena aku masih perlu sebelah lagi untuk menyimpan rinduku. Kepadanya yang sedang bernafas api.
Duuuuuhhh cinta. Ijinkan aku menengok hatinya. Agar aku tau di ruang mana dia menyimpan rindunya. Agar bisa kutulisi dengan kata kata; " aku sayang kamu sampai dalamnya rongga dada. Aku cinta kamu hingga ke tulang rusuk yang hilang kau bawa"


Medan, 8 Agustus 2016
KEADILAN

Di sebuah sudut desa yang anggun oleh ketenangan dan ketenteraman, pagi itu terlihat muram.  Warung kopi dan jajanan yang biasanya terbuka lebar dengan asap terkepul dari kayu bakar yang setengah basah tersiram embun, sekarang menutupi tubuhnya rapat-rapat.  Seakan-akan enggan kulitnya yang kelabu terbakar matahari yang sebenarnya selalu ramah.  Sapi dan bajak yang biasanya tak henti hilir mudik saling menyapa, kini lebih senang meringkuk dalam keterasingan masing-masing.  Menikmati saat-saat terakhir kebersamaan mereka sebagai budak manusia.
Perubahan sikap itu mulai timbul ketika mereka menerima kabar bisikan dari terompah yang hanyut di kali Mayung kemarin.  Bahwa esok hari akan datang rombongan tuan-tuan dari kota yang hendak mengukur setiap pori-pori tanah desa itu sebagai lahan pembuatan lapangan permainan khusus tuan-tuan Dasi.
Sebelumnya penghuni desa itu memang sudah diberitahu melalui surat perintah, bahwa jagung dan padi, berikut sawah dan tegalan, hendak ditukar dengan segerobak permata dan masih ditambah lagi dengan bonus beberapa keping intimidasi.
Tetapi mereka terlalu bahagia untuk mengacuhkan perintah yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh keluguan mereka.  Sekarang, kebahagiaan itu rasa-rasanya sudah muntup-muntup di ujung hidung, menunggu saat keluar dengan paksa.
Ternyata di tengah keputusasaan yang mencengkeram urat nadi desa, masih ada cangkul tua yang berlari-lari mengelilingi sawah dan tegalan untuk bercanda dengan air yang mengikutinya dari belakang.  Seolah tidak lagi memperdulikan pergulatan antara kesewenangan dan ketidakmengertian yang begitu kentara menghiasi hari itu.  Dia hanya ingin menikmati keindahan watak sederhana, tanpa mau mendengar segala macam tipu menipu politik, tukar menukar kursi kekuasaan, atau bahkan pembantaian massal ide-ide yang dicap provokatif.   Kesetiaan pada tradisi merupakan prinsip hidupnya yang tidak bisa ditawar lagi.  Meskipun disana-sini bermunculan golongan yang merasa dikecewakan dan lalu berusaha mendobrak nilai-nilai tradisi yang dianggap buta terhadap gelombang kemapanan yang sebetulnya sering njomplang ke kanan kiri.  Konsekuensinya, terjadi keterikatan untuk memihak, lantas menimbulkan konflik berkepanjangan yang tidak akan pernah berhenti kecuali nurani ikut turun tangan.
Sementara itu rombongan tuan-tuan Dasi dari kota sudah tiba.  Mereka mengelilingi segala penjuru desa untuk melihat-lihat di lokasi mana nantnya ini didirikan, itu dibangun dan ini itu dirobohkan.
Kereta yang mereka tumpangi berderak pongah saat melewati jalanan berbatu.  Berputar-putar menghabiskan waktu, untuk mengejek kebodohan yang jelas terpampang di hadapan mereka.  Tetapi rombongan ini terkejut dan kemudian berhenti dengan benak penuh tanya ketika melihat masih ada penghuni desa itu yang bekerja di sawah.
Pimpinan rombongan segera turun dari kereta untuk memastikan sebuah jawaban.  Dia menghampiri cangkul tua yang sedang sibuk itu.  Tubuhnya yang bergaris-garis mewah terlihat begitu meyakinkan saat berhadapan dengan si cangkul yang berwarna uzur.
“Selamat pagi, wahai cangkul yang terhormat”
Dengan lagak menyebalkan sang dasi menyapa
“Selamat pagi tuan.  Angin apakah yang membawa tuan tega beramah-ramah dengan saya?”
Cangkul tua menjawab penuh teka-teki
“Apakah kamu tidak mengenali aku? Atau minimal atribut yang aku pakai?”
“Tuan terlalu terkenal untuk dapat kami lupakan.  Apalagi wajah tuan yang begitu cerah memancarkan kemakmuran yang selalu membuat kami bangga.”
Sang dasi melayangkan pandangannya sejenak pada hamparan sawah menghijau yang terlihat sejuk.  Tetapi dia tidak tahan untuk berpura-pura terlalu lama.
“Mengapa kamu masih bekerja disini? Bukankah seharusnya kamu mngemasi barang-barangmu dan segera pergi dari tanah ini?”
“Maksud tuan meninggalkan tanah yang telah menghidupi kami sekian lama, membesarkan anak-anak dan melahirkan cucu-cucu kami? Maaf, jawabnya adalah tidak!”
“Hmm.  Kalau begitu terpaksa kami menggunakan segala kuasa yang telah kami beli untuk memaksamu angkat kaki dari sini”.
Mendengar ancaman seperti itu, si cangkul tua bukannya takut.  Malah dadanya yang kerempeng termakan usia dibusungkan penuh semangat.  Kata-katanyapun berubah menjadi heroik.
“Tanahku adalah bajuku.  Membeli tanahku sama saja menukar harga diriku dengan ketelanjangan.”
“Hey, sudra! Apakah kamu tidak melihat surat sakti di tanganku?”
“Aku tidak peduli!  Karena nasibku tidak ditentukan oleh sehelai kertas”.
“Kamu keras kepala!  Apakah kamu juga tetap tidak peduli jika kemelaratan terus mengangkangi keangkuhanmu?”
Dengan mengelus dada si cangkul menjawab kalem.
“Tuan.  Tolong pisahkan antara keadilan dengan kekayaan.  Jangan sampai tuan buta pada keadilan hanya karena tuan terlalu mendewakan kekayaan.”
Sang dasi tentu saja bertambah geram.  Bagaimana mungkin dia yang terpelajar dan terhormat, diberi kuliah tentang kehidupan oleh cangkul karatan yang untuk membacapun harus mengeja terlebih dahulu.
Tetapi nalarnya sudah terlalu buntu oleh keserakahan, sehingga sulit untuk memahami bahwa kesederhanaan lebih mampu membaca hidup secara gamblang.  Kemarahannya tidak terbendung lagi.
“Pokoknya aku tidak mau tahu!  Besok pagi, semua yang bernyawa di desa ini harus pergi.  Jika kalian masih membangkang, kalian akan menyesal mengapa harus lahir di dunia ini.”
Seolah menyambut kata-kata sang dasi, terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga.  Angin menderu-deru membawa pesan petaka.  Hujan deras bagai tertumpah dari langit.  Dan badai menyeringai kejam, memperlihatkan taringnya yang menghancurkan.
Sang dasi yang hanya tergantung pada leher manusia, tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan alam.  Tubuhnya diombang-ambingkan kesana-kemari, sehingga tanpa dapat dicegah lagi dia menjerat leher tuannya sendiri.
Untuk beberapa saat terdengar erangan yang memilukan.  Kemudian terhenti bersamaan dengan terkulainya leher dan lepasnya nafas fana.  Sedangkan sang dasi sendiri tercampak dalam kubangan lumpur penuh kotoran kerbau.  Tubuhnya tercabik-cabik.
Rupanya Yang Maha Bijaksana, melalui alam, telah memberikan keadilan-Nya.


Bogor, 1994




AKHIR SANG PENYAIR

Tenggelam dalam kerumunan raksasa-raksasa pencakar langit, kaki tua itu terus berjalan.  Menyibak barisan trotoar berdaki dari ujung ke ujung.  Berhenti sejenak untuk sekedar menatap keangkuhan rambu lalu lintas di perempatan, pemilik kaki tua itu terbatuk-batuk diterpa gumpalan-gumpalan asap knalpot kendaraan bermotor.
“Gusti Allah, dimana harus kusembunyikan paru-paruku yang sudah bangka ini?”
Keluhnya lirih disela-sela kesibukan dadanya menyaring polusi.  Tiba-tiba dipacunya dengan cepat kaki tuanya untuk menggapai tangga bis kota yang sedang menurunkan berjejal-jejal manusia sekaligus menaikkan berjejal-jejal yang lain.  Belum juga pak tua itu selesai menyederhanakan napasnya yang memburu dan mengangkat lututnya untuk ikut berjejal naik, bis kota itu sudah tersengal-sengal bergerak maju.  Meninggalkan asap hitam yang kembali berebutan memasuki rongga dadanya.
Dua tiga kali pak tua itu harus menerima nasib dikalahkan oleh perburuan waktu ibu kota.  Baru kali yang keempat, dengan sisa-sisa kekuatan usianya dia berhasil menaklukkan kepongahan mesin metropolis itu.  Dan didapatinya dirinya telah berimpit-impit dengan lusinan ketiak di tengah lorong bermesin itu.  Matanya mencari-cari bangku yang mungkin lupa untuk diduduki.  Menghela napas panjang, lalu terbatuk menahan getar getir perasaannya.  Belasan pantat-pantat muda dengan tenangnya sedikitpun tidak bergerak, meski di atas mereka seorang nenek, seorang ibu muda dengan bayinya, dan seorang bapak tua berjuang mempertahankan kerapuhannya agar tidak terbanting ke kanan kiri.
Ketika kondektur berteriak berkali-kali menyebut sebuah nama, pak tua itu bergegas mendorong tubuhnya untuk turun.  Kali ini, nasibnya tidaklah lebih baik, karena tanpa dapat dicegah lagi, raga tuanya harus terjungkal ke tepi jalan saat sebelah kakinya masih tersangkut di bibir tangga sedangkan bis itu sudah bersicepat menerjang kebutuhan.
Kontan saja, belasan orang mengelilingi dengan rasa ingin tahu.  Sambil menahan rasa sakit, pak tua itu berusaha menghunjamkan kakinya ke bumi.  Dan dia berhasil, kemudian terpincang-pincang  meninggalkan tempat itu, diiringi belasan orang yang ikut membubarkan diri, diiringi ketidakperdulian yang kembali mencengkeram udara ibu kota.
“Menyabung tubuh dan jiwa\mendekap amanat hati\ terperangkap kelunya peradaban\ menanggalkan baju masa…..”
Gumaman antara jelas dan tidak keluar dari bibir si bapak tua,  suatu usaha hatinya untuk melupakan rasa sakit yang merambati kaki kirinya.  Dia merogoh saku celana komprangnya, digenggamnya segebok lusuh kertas bergambar pahlawan, membawa tubuhnya memasuki pelataran sebuah rumah makan.
Belum juga hidungnya melewati pertengahan pintu, sebuah suara menghardiknya dari belakang,
“Bapak tua, tunggu dulu!”
Dilihatnya sepasang mata berkuasa.
“Saya manajer rumah makan ini, saya harap pak tua segera meninggalkan tempat ini.”
Diangsurkannya tangan umtuk memperlihatkan lembaran-lembaran uang puluhan ribu, tapi mata itu tetap menunjukkan kuasa, meski sekarang agak mengendur,
“Maaf, pak tua boleh punya uang, tapi saya takut tamu-tamu langganan saya akan kehilangan selera melihat kekumuhan bapak.”
Kali ini dijawabnya dengan sedikit tersinggung,
“Tapi, saya sanggup bayar.  Lagipula yang mau makan itu saya bukan pakaian saya.”
Mata berkuasa itu tetap berkuasa, memberi isyarat seorang satpam untuk segera menjalankan tugasnya.  Pak tua itu hanya tersenyum pahit ketika satpam menggandeng kejengkelannya keluar halaman.
“Pak tua, maafkan saya. Saya hanya menjalankan tugas.”
Sebuah ketulusan dan penyesalan memancar pada mata didepannya.  Pak tua itu hanya mengangguk pelan, digenggamnya tangan sang satpam sembari menyelipkan uang yang rencananya tadi untuk makan.  Satpam itu berusaha menolak dengan sopan.
“Ambillah nak.  Uang ini memang ditakdirkan untuk menjadi rejeki tempat ini, dan aku senang bahwa aku bisa memberikannya pada tempat yang tepat.”
Pak tua itu mengayunkan langkahnya, meninggalkan raut muka penuh syukur dan terima kasih sang satpam.
Teriknya siang semakin memanggang rimbun belantara Jakarta.  Pak tua itu terus saja menelusuri satu demi satu ruang sempit yang disediakan ibu kota. Mencoba menggali keberaniannya yang tertimbun kenyataan hidup.  Melepas segala haus yang melilit kerongkongan nuraninya akan beberapa buah ketulusan dan keperdulian penghuni belantara kota ini.
“Toloooong!”
Jeritan yang mengundang iba dan ketakutan itu mendorong pak tua untuk mendatangi.  Dilihatnya seorang wanita muda berusaha mempertahankan tasnya dari beberapa orang bertampar sangar. 
“Hey! Hentikan!”
Tampang-tampang sangar itu serentak menoleh ke sumber suara, dan nyali mereka yang mendadak terputus tadi kembali bangkit.
“Tua bangka sialan, enyah kau dari sini!  Aatau kau ingin tubuhmu yang peot itu jadi santapan tikus-tikus got.”
Dengan senyum sareh pak tua itu melemparkan tasnya di depan mereka.
“Kalian boleh ambil tasku, tapi lepaskan wanita itu.”
Salah seorang dari bajingan itu membuka tas pak tua dan mengaduk isinya.  Pakaian-pakaian kumal, sepasang sandal jepit, sajadah tua dan sebuah sarung tenun melayang kemana-mana, disusul umpatan-umpatan kotor dan makian-makian keji.
“Kau mau menipuku pak tua?”
Pemimpin gerombolan itu menghampiri dengan wajah bengis dan tangan terkepal.
“Tunggu dulu, didalam tas itu memang benar ada sebuah benda berharga.”
Dirogohnya tas itu dan dalam genggaman tangannya sebuah benda yang berkilauan memantulkan bayangan berkilat-kilat.
Orang-orang sangar itu tertegun sejenak,  sebelum meledakkan udara dengan kemarahan yang menghentak.
Pak tua itu hanya bisa mundur-mundur sambil memegang benda berkilau itu.
“Kalian lihatlah! Bukankah benda ini amat berharga bagi manusia.  Sadarkah kalian, bahwa diri kalian ada dalam benda ini.  Bertahun-tahun mata hati kalian tidak melihat, bertahun-tahun kalian sengaja membutakan diri, menulikan telinga, dan memaksa nurani sendiri untuk tidak mengakui bahwa sebenarnya kalian adalah manusia yang punya rasa dan iba.  Kenyataan hidup telah kalian makan mentah sebagai takdir, tanpa usaha, tanpa doa.  Lihatlah disini, dan kalian akan melihat bahwa air mata dan taubat itu masih ada.”
Tersengal-sengal pak tua itu bicara.  Nada suaranya bergetar lirih mengikuti senja yang mulai mengikatkan lorong itu pada sepi.  Orang-orang itu terdiam, termangu, kemudian satu persatu merobek kesewenangan dan keputusasaan melihat cermin yang sedari tadi dipegang oleh pak tua, lalu berjalan pergi beriringan sambil mengaca ketelanjangan hakiki mereka sebagai seorang manusia.
Pak tua itu mengusap dadanya yang sesak oleh rasa haru dan syukur.  Tidak ada yang lebih indah di dunia ini, selain berpalingnya batin-batin hitam dari kegelapan.
Onggokan baju malam semakin kelam, melangkahi waktu dengan tertatih dan sendiri.  Sepuluh langkah lagi pak tua itu akan sampai pada tujuan perjalanannya.  Sepuluh langkah lagi rumah anaknya yang baru beberapa hari yang lalu dia ketahui sebagai anak kandungnya akan terlangkahi.  Sepuluh langkah lagi segala penyesalan yang mengendap selama puluhan tahun akibat masa mudanya yang berkubang dosa akan tertumpahkan.  Sepuluh langkah yang tidak bisa dia selesaikan selama hidupnya ketika sepuluh detik kemudian sebuah sorot lampu kendaraan menyeberangi pundaknya, mendahului terlemparnya tubuh tuanya.
Matanya membuka, hanya untuk melihat sebuah Mercedes berhenti sejenak, yang lalu dengan tergesa-gesa menghambur dalam kegelapan malam.
Sebelum jantung tuanya dipaku oleh takdir kematian, bibir tua itu masih sempat bergetar mengeja kata,
“Akhir dari sebuah perjalanan, bukanlah perhentian\tapi awal dari terbukanya pintu abadi kehidupan\Allahu Akbar…..Allahu Akbar…..



Bogor, Maret 1995
Rinduku Berganti ganti Rupa

Saat ini rinduku berputar putar di ujung awan cengkareng. Sedangkan langit sedang berwarna biru. Bayangkanlah betapa nampak jelas tubuh rinduku itu.
Aku harus mempertahankan awan itu agar tak menjadi hujan. Jadi rinduku tidak pun menetes jatuh berhamburan.

Siang nanti rinduku akan mengendarai awan kualanamu. Ingatlah itu, bahwa rinduku tidak pernah tertinggal sedetikpun. Sepotongpun. Selalu saja mengikuti kemana aku pergi. Karena hatimu sudah terlanjur menjadi satu benang dengan hatiku.

Malam nanti bahkan mungkin lebih lagi. Rinduku akan mewujud dalam mimpi. Memelukmu dengan erat mencari bintang. Menggandengmu berjalan menelusuri jejak jejak kisah yang sukar dilupakan.

Esok hari. Kala hangat pagi menyapa. Rinduku akan berubah menjadi tembang sunda. Mengalun sendu menyayat sunyi. Di padang rumput luas yang diberi nama padang cinta.


Cengkareng, 7 Agustus 2016
SEHELAI DAUN DAN EKOR BURUNG ELANG

Hari yang cerah. Langit tampak ramah. Biru dan beningnya tampak melapisi segala permukaan.  Dari lidah gelombang sampai sayap-sayap burung camar, dari selimut pepohonan hutan sampai ujung tengkuk pencakar langit, dari hentakan geram seorang kenek oplet sampai lengkingan indah tangis bayi.  Tidak akan ada yang sanggup mengerti, biru itu apa dan bening itu untuk siapa. Menakjubkan.
Tapi kanvas yang terlukis indah itu tiba-tiba ternoda oleh darah.  Dari pundak awan yang tersangkut diatas cemara, meluncur tubuh kaku dengan sayap patah.  Seekor elang terkapar di rerumputan.  Sekujur tubuhnya berjubah darah.  Rerumputan yang menyangga tubuhnya harus menahan napas, karena mencium bau amis dan tajam, bau daging sobek dan sisa mesiu.
“Ya Allah! Apa yang terjadi?”
Seekor cacing mengiba sambil tertunduk lemas.  Lalu digalinya tanah perlahan-lahan hingga terciptalah  sebuah lubang.  Sebuah lubang kuburan.
Angin menghembus dari barat, membawa serta sehelai daun kering dan menurunkannya dengan lembut diatas rumput.  Daun renta itu memandang sekeliling.  Sepi dan mencekam.  Lalu matanya tertumbuk pada sehelai bulu ekor yang terkapar lemas tak bertuan.
“Wahai ekor sunyi, dimanakah tuanmu berada? Kenapa keningmu bergurat amarah? Adakah yang terusir dari jantungmu?”
Helaian ekor itu menengok dan tersenyum kecut.
“Tidak hanya jantungku yang terusir kawan, bahkan sisa air matakupun mereka ambil.  Dulu aku melayang dengan bangga bersama tuanku.  Sekarang aku terbaring sendirian diatas kuburannya.
Daun itu menundukkan muka.  Pipinya yang keriput terlihat basah.  Suaranya terdengar sayup-sayup seperti orang kesakitan. 
“Apa yang kau alami itu adalah hukum kawan.  Entah itu hukum rimba atau hukum manusia, tapi yang pasti manusia adalah tuan dari tuan kita.  Sampai setua ini belum juga aku mengerti, mengapa ambisi manusia bisa melebihi panasnya matahari, mengapa hati manusia lebih dingin dari salju, dan mengapa keangkuhan manusia bisa lebih tinggi dari puncak himalaya.  Kalau kau bisa mengerti itu semua, maka kematian tuanmu bukanlah apa-apa”.
Helaian ekor itu mengangguk-angguk. Mencoba meresapi apa yang telah dikatakan oleh sang daun tua.
“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan wahai daun perkasa?”
“Mintalah pada angin untuk mengantarmu mengembara, carilah kebenaran dari ucapanku tadi.”

Esok harinya, sebelum pagi berkemas pulang, helaian ekor itu meminta tumpangan pada angin yang lewat untuk membawanya pergi.  Ditelusurinya waktu demi waktu, tempat demi tempat.  Apa yang dilihatnya benar-benar membuka pengertiannya tentang sisi-sisi hidup.  Tajam maupun tumpul, berkilau maupun berkarat.
Seperti saat seorang anak tertatih-tatih  membawa kayu bakar, sedang teman-temannya belajar dan menyanyi dalam sebuah kelas.  Saat seorang kuli bangunan terkapar ditimpa balok kayu dan mati tanpa sepeserpun warisan untuk anaknya, karena tidak ada asuransi.  Saat sekumpulan orang terserang kejang-kejang karena sungai tempatnya mandi tercemari ferrum dari pabrik.  Saat sekumpulan nyawa berkalang tanah mempertahankan tradisi.  Saat melihat sekumpulan rumah mewah berpagar gubuk-gubuk kardus dan taman manusia compang-camping.  Semua yang dilihat membuatnya menangis.  Semua yang dilihat membuatnya semakin tua.
Tangisnya baru bisa berhenti ketika dilihatnya seorang ibu menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang, ketika didengarnya suara adzan bergema dimana-mana.  Batinnya tersentuh, kebenciannya kepada manusia mengendap perlahan-lahan.  Apa yang dikatakan daun renta itu memang terbukti, tapi selain itu ada yang lebih dari semua kekurangan hidup ini, bahwa cinta dan kasih sayang belumlah hilang. 
Dimintanya angin menurunkan dirinya  di tengah gurun gersang,  Perjalanannya sudah berakhir.  Hanya tinggal menunggu Sang Pencipta menjemput debu-debu helaiannya.

Kadubale, Juli 1994
Bab I
Glagahwangi.  Sebuah desa yang sunyi.  Malam ketika bulan sedang memamerkan tubuhnya yang sempurna.  Angin juga bertiup begitu lambat. Selambat sebuah bayangan yang berjalan mengendap endap di pelataran sebuah rumah kecil dengan pelataran yang luas.  Sosoknya kecil dan ramping.  Sosok tubuh wanita.  Sebilah belati panjang terselip di pinggangnya.  Langkah kakinya yang sangat ringan membawanya mendekat ke arah pintu yang tertutup rapat.  Dirapatkannya telinga ke dinding anyaman bambu itu. Pendengarannya dipertajam, karena lirih sekali terdengar desahan nafas orang yang sedang tertidur.  Setelah merasa yakin hanya ada 2 orang yang sedang tertidur di dalam rumah itu. Wanita itu kemudian mencabut sesuatu dari balik pinggangnya.  Benda kecil berbentuk pipih dengan pegas di sisi luarnya.  Membidik ke arah angkasa, dan...
“Wuuussss.....”
Sebuah sinar kecil berwarna kemerahan membelah udara.  Meledak dan membesar di angkasa tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.  Sebuah suar isyarat. Wanita itu melangkah hati-hati sambil memperhatikan arah tempat dia datang tadi.  Dari kejauhan, berkelebat cepat beberapa sosok berseragam kerajaan.  Melihat dari caranya berlari.  Pastilah tiga orang itu orang orang yang berilmu tinggi.  Saat tiga bayangan itu telah mendekat, nampaklah bahwa betapa mencolok perbedaan di antara mereka.  Orang pertama bertubuh tinggi kurus dengan hidung bengkok seperti burung hantu.  Sering disebut sebagai Iblis Jompo Laut Timur.  Tokoh persilatan berilmu tinggi yang telah mengabdikan hidupnya pada kerajaan Majapahit sejak masih muda.  Terkenal dengan kekejaman dan kelicikannya, akan tetapi tetap dipercaya oleh Mahapatih Gajahmada karena kerajaan sangat membutuhkan orang orang berilmu tinggi yang setia pada kerajaan.  Orang kedua bertubuh luar biasa gendut.  Saking gendutnya, baju yang dikenakannya tidak bisa terkancing rapat sehingga tampaklah perutnya yang telanjang.  Dikenal sebagai tokoh sakti dunia persilatan yang dijuluki Bangka Sakti Merapi.  Orang ketiga sangat berkebalikan dengan dua pertama yang tidak karuan bentuknya.  Seorang pemuda tampan berwajah bersih.  Sangat rapi dan perlente.  Tokoh yang dikenal sebagai pemetik kembang di dunia persilatan.  Punya ilmu kanuragan yang tinggi dan biasa disebut dengan Hidung Belang Pesisir Barat.  Tiga orang ini adalah tangan kanan Mahapatih Gajahmada di kalangan persilatan.
Secepat datangnya, ketiga orang ini segera bergabung dengan wanita tadi.  Setelah diperhatikan dalam temaram lampu, adalah seorang wanita yang cantik.  Berbaju ringkas hitam hitam.  Khas baju telik sandi Kerajaan Majapahit.  Seorang wanita kepercayaan Mahapatih Gajahmada dari kalangan pasukan kerajaan bernama Dyah Puspita.
Kala itu, Mahapatih Gajahmada menciptakan sebuah struktur pasukan yang sangat lengkap.  Pasukan reguler yang dikepalai oleh seorang Panglima Perang Pertama. Pasukan khusus pengawal kerajaan yang dipimpin juga oleh seorang Panglima Kerajaan Pertama.  Pasukan Sayap Sima adalah pasukan yang dibentuk dengan anggota dari dunia persilatan yang telah bersumpah setia kepada kerajaan dan dipimpin oleh seorang resi bernama Resi Tunggal Jiwo.  Tokoh dunia putih yang terkenal sakti mandraguna dari Padepokan Suralaya.  Di bawah Resi Tunggal Jiwo ada lima orang penting yang terdiri dari tokoh dunia hitam dan putih, yaitu Iblis Jompo Laut Timur, Bangka Sakti Merapi, Hidung Belang Pesisir Barat, Pendekar Pena Menawan, dan Laksamana Utara.  Kemudian yang terakhir adalah pasukan telik sandi yang dipimpin oleh Dyah Puspita, wanita cantik murid tunggal dari Resi Tunggal Jiwo.
Bisa dibayangkan betapa pentingnya orang yang sedang mereka satroni sekarang.  Hingga empat orang tokoh penting Mahapatih Gajahmada harus turun langsung menghadapinya.  Keempatnya sekarang membentuk formasi melingkar di sekitar rumah agar tidak ada kesempatan melarikan diri bagi penghuninya.
Arya Prabu!! Keluarlah!...Kisanak sudah terkepung! Tidak ada gunanya melawan atau melarikan diri.  Kami utusan dari Mahapatih Gajahmada ditugaskan untuk membawamu hidup atau mati!”
Dyah Puspita mengeluarkan peringatan dengan suaranya yang melengking tinggi.
Terdengar gerakan dari dalam rumah. Seperti seseorang sedang berkemas dengan cepat dan tergesa gesa.
“Brakkkk.....Blaarrr.....”  Atap rumah jebol dan melesatlah sesosok bayangan tinggi dengan menggendong sesuatu di punggungnya di atas atap.  Melihat ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat berwarna keemasan.
“Hmmm...Dyah Puspita.  Aku sudah lama mengenal dan sangat menghormati ayahmu.  Kenapa kau harus datang ke rumahku dan membawa begundal-begundal hitam ini.  Seandainya kau datang sendiri, mungkin aku masih bersedia berunding dengan damai.”
Laki laki yang dipanggil Arya Prabu itu berkata dengan lantang.  Berumur hampir setengah baya.  Berperawakan tinggi kurus dan terlihat berwibawa.  Tongkatnya yang berwarna keemasan menyala terang karena Arya Prabu sedang mengerahkan ajian kanuragannya.
Dyah Puspita agak bergidik melihat tongkat itu.  Dia tahu bahwa yang dihadapinya ini bukanlah orang sembarangan.  Arya Prabu adalah keluarga kerajaan Majapahit.  Bekas pimpinan Sayap Sima dua puluh tahun yang lalu dan dijuluki Sima Agung.  Sepupu dari Raja Majapahit yang sejak lama memang tidak pernah patuh dan tunduk terhadap aturan kerajaan karena tidak setuju dengan adanya beberapa tokoh hitam ikut bergabung dalam Sayap Sima.
Menoleh kepada tiga orang yang sudah bergabung dengannya dan berkata;
“Paman bertiga, kita diminta untuk mencari dan menangkapnya hidup hidup jika bisa.  Harap paman bertiga ingat itu.”
“Aku tidak peduli dia tertangkap hidup atau mati,” dengus Bangka Sakti Merapi pendek.
Hidung Belang Pesisir Barat menimpali; “Paduka Arya Prabu yang hebat.  Perkenankan saya menawarkan sesuatu kepada paduka.  Menyerah dan pengadilan kerajaan akan memutuskan hukuman paduka atau pilih melawan kami yang paduka tahu tidak bisa paduka menangi.”
Iblis Jompo Laut Timur juga tidak mau kalah gertak, suaranya lirih dan bergetar namun mengandung kekuatan menaklukkan karena diam diam dia menyisipkan sihir penakluk;
“Sima Agung, aku sudah lama tahu bahwa kau tidak suka kami bergabung dalam Sayap Sima.  Aku juga tahu bahwa kau adalah menantu ponakan Raja Blambangan.  Tapi aku tidak takut.  Kau dulu pernah mengalahkan aku dalam adu tanding kanuragan di istana. Aku yakin sekarang bisa mengalahkanmu dengan mudah.  Benar apa yang dikatakan gadis cantik ini.  Sebaiknya kau menyerah dan aku hanya akan mencopot sebelah kakimu saja”.  Udara di sekeliling tokoh-tokoh yang akan bertempur itu mendadak menipis dan pasti akan membuat sesak nafas bagi siapapun yang tidak memiliki daya linuwih yang cukup.  Sihir Penakluk memang dahsyat.  Selain mengandung kekuatan tenaga dalam yang kuat, juga disisipi oleh mantra hitam yang hebat.
Tapi hal ini sepertinya tidak terlalu berpengaruh pada Arya Prabu.  Tongkatnya berubah menjadi kemerahan seperti nyala api.  Inilah yang membuat Arya Prabu sangat terkenal dahulu.  Ajian Geni Sewindu yang menjadi andalannya sekarang dikeluarkan sepenuhnya.  Selain tongkatnya yang menyala terang, tangannya pun diselimuti oleh api berwarna kebiruan.
Dyah Puspita.  Aku tidak mau mencari permusuhan denganmu.  Apakah kau tahu bahwa yang dituduhkan sang Mahapatih itu tidak benar.  Beliau termakan isu yang dihembuskan oleh cecunguk centil pesolek itu.” Ujarnya sembari menuding marah ke arah Hidung Belang Pesisir Barat.
“Paduka Paman, para telik sandi  kerajaan telah lama mengikuti gerak gerik Paman.  Kami sudah mengumpulkan banyak informasi tentang kedekatan Paman dengan Kerajaan Blambangan.  Juga rencana besar Kerajaan Blambangan untuk mengacau kekuasaan Majapahit.  Dan itu didukung oleh Paman.”  Dyah Puspita menjelaskan dengan ringkas sambil mulai mempersiapkan diri.
“Paduka Paman adalah keluarga dekat kerajaan.  Mengingat hal itu dan bahwa Paman juga pernah dekat dengan Paduka Mahapatih, maka ampunan kerajaan bisa diberikan jika Paman mau ikut kami dengan sukarela dan bersedia membeberkan apa rencana besar Kerajaan Blambangan terhadap Majapahit.......Kami juga..........
“Dukk...Dukk...Dukk...”
Belum selesai kalimat Dyah Puspita, tiba tiba Bangka Sakti Merapi melayangkan sebuah pukulan hebat ke arah Arya Prabu. Tubuhnya yang gendut melayang ringan mengitari Arya Prabu.  Luar biasa memang.  Tubuh segendut itu ternyata sangat ringan ketika menggerakkan diri bertempur.  Bayangannya berkelebatan mengirimkan banyak pukulan mematikan.  Muncul asap hijau kehitaman di lengannya.  Tanda Bangka Sakti Merapi mengeluarkan Pukulan Wedhus Gembel yang mengerikan.  Arya Prabu menandinginya dengan kecepatan yang tak kalah mengejutkan.  Lengannya yang diselubungi api menangkis dengan cepat semua pukulan mematikan itu. Bahkan mampu mendesak mundur dan membuat kerepotan Bangka Sakti Merapi. 
Bayangan lain berkelebat mengirimkan pukulan yang mendesis desis.  Iblis Jompo Laut Timur membantu Bangka Sakti Merapi dengan mengerahkan ajiannya yang dinamakan Jurus Racun Timur.  Suara desisan pukulan itu diikuti bau tengik memuakkan hidung.  Lawan yang tangguhpun akan terpengaruh oleh bau racun yang diambil dari saripati kalajengking berbisa itu.  Tapi Arya Prabu dengan tenangnya melayani dua lawan hebat ini. 
Api sekarang tidak hanya membungkus lengannya.  Seluruh badan Arya Prabu diselimuti api yang menyala nyala.  Herannya bungkusan yang digendong di punggungnya tidak ikut terbakar.  Tiga orang yang sedang bertempur itu tidak nampak lagi wujudnya.  Hanya bayangan berkelebatan, daun daun beterbangan, asap hitam, hijau dan api kemerahan saja yang nampak mata. Arya Prabu sekarang hanya bisa mengimbangi saja pukulan-pukulan lawan.  Selain lawan lawan yang sangat berat, bungkusan besar di punggungnya membuat gerakannya terbatasi.  Dia mengkhawatirkan keselamatan putranya yang ada dalam bungkusan di punggungnya.  Hebatnya, dia tidak mendengar putranya menangis atau menjerit-jerit ketakutan. 
Dyah Puspita menonton dengan jantung berdentam dentam.  Dia tahu pertempuran ini berimbang dan akan berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar.  Dia tidak bisa memasuki gelanggang pertempuran karena sadar hanya akan mengganggu konsentrasi dua sekutunya yang sedang bertempur dengan tokoh sakti itu.  Diliriknya Hidung Belang Pesisir Barat sedang memperhatikan pertempuran itu dengan seksama tapi dengan senyum simpul di sudut mulutnya.  Dilihatnya kedua tangannya dimasukkan ke dalam jubah dan kelihatan sedang mengambil sesuatu.  Dyah Puspita menajamkan matanya, mencoba memastikan benda apa yang sedang diambil oleh Hidung Belang Pesisir Barat.  Dua benda kecil berkilat dengan ujung berwarna merah darah. 
Senjata rahasia?! Pikir Dyah Puspita dengan gelisah.  Kemudian bergerak cepat mendekati.
Tapi dia terlambat sepersekian masa.  Hidung Belang Pesisir Barat menggerakkan tangannya dan meluncurlah dua senjata rahasia ke arah bayangan-bayangan yang sedang bertempur itu.
“siuuutttt....clap clap....uaaahhh!.....bukk...bukkkk!”
Sesosok bayangan terpental keluar dari arena pertempuran.  Arya Prabu terlihat mengusap sudut mulutnya yang mengeluarkan darah segar.  Dia terkena pukulan telak di dada oleh Iblis Jompo Laut Timur dan di punggung oleh Pukulan Wedhus Gembel Bangka Sakti Merapi.  Lehernya menghitam dan mukanya merah seperti udang yang direbus.  Disentuhnya lehernya untuk mencabut dua benda kecil yang menancap.  Senjata rahasia Hidung Belang Pesisir Barat. 
Arya Prabu berdiri sempoyongan.  Tangannya berpegangan erat pada tongkatnya.  Dia sadar lukanya sangat parah.  Senjata rahasia Hidung Belang Pesisir Barat terkenal dengan racunnya yang sangat mematikan.  Dia memejamkan mata, mengumpulkan segenap tenaga dalam dan menyalurkan pada tubuhnya yang terluka.  Terutama menutup aliran darah di leher agar racunnya tidak semakin menjalar ke seluruh tubuhnya.  
Dyah Puspita mendelikkan matanya kepada Hidung Belang Pesisir Barat
“Kau curang Mandara! Perbuatanmu sungguh memalukan.....”
Melompat ke arah Arya Prabu dan berdiri membelakanginya sambil bertolak pinggang ke arah 3 sekutunya.  
“Hentikan paman.  Cukup! Dia sudah terluka parah.  Biar dia mengobati diri dulu.  Setelah itu baru kita bawa ke ibukota kerajaan.”
Ketiga orang itu saling bertatapan mata.  Hidung Belang Pesisir Barat melangkah ke depan selangkah.
Dyah Puspita, dia sudah sekarat.  Racunku sudah menjalar di tubuhnya. Paling lama empat jam lagi dia sudah tewas.  Kasihan kalau dia harus tersiksa selama itu.  Biarkan kami menyelesaikannya.  Toh Mahapatih tidak mensyaratkan harus ditangkap hidup hidup.”  Sambil tetap maju selangkah demi selangkah menghampiri Arya Prabu diikuti oleh kedua rekannya.  Mereka masih dalam posisi siaga dan waspada.  Karena terluka separah itupun, Arya Prabu masih akan sanggup membunuh.
“Tidak Mandara! Semua keputusan ada di tanganku sesuai perintah Mahapatih.  Kita tetap akan membawa dia hidup hidup.”  Dyah Puspita berkeras mencoba menahan niat membunuh yang jelas jelas terpampang di mata mereka.  Akan tetapi tiga tokoh itu tetap menghampiri perlahan.  Kedua tangan Hidung Belang Pesisir Barat dipenuhi oleh senjata rahasia.  Bangka Sakti Merapi mempersiapkan pukulan Wedhus Gembelnya yang terakhir.  Sementara Iblis Jompo Laut Timur bersiap menjatuhkan pukulan mematikan racun timurnya.
Arya Prabu yang sedang tersengal menahan sakit sambil bersila, berbisik pelan kepada Dyah Puspita.
“Dyah Puspita, tolong selamatkan anakku.  Dia ada di gendongan belakang.  Bawa dia ke padepokan ayahmu.  Segeralah pergi.  Aku mohon....Biar aku selesaikan urusanku dengan mereka.  Kau juga akan menjadi korban mereka jika tidak segera meninggalkan tempat ini.”
Dyah Puspita memandang bungkusan kain di pundak belakang Arya Prabu dengan terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata bungkusan itu berisi seorang anak kecil.  Tangan Arya Prabu menyentuh pundak Dyah Puspita dengan halus.  Suaranya bergetar aneh penuh wibawa.”Pergilah sekarang...bawa anakku... sekarang.” Ada getaran halus dan aneh yang merasuki jiwa Dyah Puspita.  Tanpa berkata apa apa diraihnya gendongan itu dan melesat pergi sambil berkata nyaring.
“Paman berdua,  Aku pergi.  Tapi ingat!  Apa yang terjadi hari ini di luar semua tanggung jawabku.”  Bayangannya kemudian melesat ke arah bukit batu di sebelah timur yang dipenuhi oleh rimbun pepohonan.
Hidung Belang Pesisir Barat mengrenyitkan hidungnya.  Jalan ke arah Ibukota Majapahit bukanlah arah yang dituju Dyah Puspita.  Tapi dia kembali memusatkan perhatiannya kepada Arya Prabu. 
Secara serentak ketiga tokoh itu melancarkan serangan terakhir yang mematikan.  Terdengar debuman keras saat pukulan ketiga tokoh itu bertemu dengan tangan api Arya Prabu.  Tubuh Arya Prabu  terlontar ke udara dan kemudian terhempas ke tanah sepuluh depa.  Mulutnya memuntahkan banyak darah.  Kemudian duduk bersila, mengatur nafas dan memejamkan mata. 
Hidung Belang Pesisir Barat terbungkuk bungkuk menahan sakit di dadanya.  Sedikit darah mengalir dari hidung dan mulutnya.  Diapun segera duduk bersila untuk memulihkan tenaga dan luka dalam di tubuhnya. 
Bangka Sakti Merapi lebih parah lagi.  Tubuhnya terjengkang hebat.  Tangannya tergantung di samping tubuhnya tak berdaya.  Kedua tangannya ternyata patah dan remuk akibat benturan dahsyat tadi.  Dengan susah payah tokoh gendut itu duduk bersila dan mencoba memulihkan diri.
Iblis Jompo Laut Timur  tidak lebih baik.   Dia bahkan tidak sanggup berdiri atau bersila.  Cairan kental darah dari mulut dan telinganya menandakan bahwa lukanya cukup parah.  Sambil menahan sakit luar biasa di dadanya.  Iblis sakti ini juga mencoba memulihkan diri. 
Keheningan kemudian sangat mencekam.  Suara daun yang jatuh mendarat di permukaan tanah bahkan seperti suara ledakan meriam.  Selain menahan sakit, ketiga tokoh ini terlihat sangat khawatir.  Betapa tidak?  Ketiga tenaga yang mereka gabungkan tadi ibarat tenaga dari letusan gunung berapi.  Namun mereka masih saja terluka cukup hebat.  Jika Arya Prabu melanjutkan serangannya dengan kondisi mereka saat ini, tak ayal mereka pasti akan menemui ajal.  Seperti dikomando, ketiganya melihat ke arah Arya Prabu.  Tapi yang dilihat hanya terlihat duduk bersila dengan tenang puluhan depa di depan mereka.  Hidung Belang Pesisir Barat memicingkan mata memperhatikan.  Arya Prabu terlihat duduk bersila dengan tenang.  Namun telah kehilangan nafas terakhirnya. Dengan tenang dia segera melanjutkan proses pemulihan diri.  
*
Ketika Gunung Salak Redakan Amarah

Begini jika gunung salak terlihat murung. Alisnya berkerut memandang kerumunan kota. Hatinya sedang dipenuhi rasa panas yang membakar. Merasa sendiri terkepung keramaian yang melelahkan. Pinggangnya letih menyangga bukit bukit yang makin lama makin tak berhelai rambut. Terkupas oleh jaman dan sesaknya peradaban.

Kembali riang ketika teringat janjinya, pada senyuman manis ciliwung. Yang terlebih lelah ketika membelah kegaduhan saat menuju muara. Harus melalui jalan panjang berliku yang bukan main sunyinya. Sendirian berjuang menaklukkan kerasnya waktu. Berkeringat darah yang tak lagi merah.

Gunung salak bergumam kagum. Matanya penuh cinta ketika berujar pelan; "Saat kau mengaliri lereng lerengku, dingin amarah di hatiku. Saat kau mencuci diri di lembah lembahku, sejuk amukan di jiwaku. Teruslah mengalir hingga lautan, yang aku yakin, sangat beruntung menerimamu dalam dekapan."


Bogor, 3 Agustus 2016
Maaf Benar Benar. Benar Benar Maaf.


Gunung memang menjulang tinggi. Tapi kabut masih bisa menyelimutinya hingga tak nampak. Sehingga seringkali pandangannya membuta tak sengaja. Laut memang dalam.  Namun karang bisa saja bermunculan di sela sela ombaknya. Sehingga haluan bisa tergores karenanya. Awan memang terlihat putih dan bersih. Hanya saja saat air menggelayutinya begitu berat. Maka kelabu dan hitam lah yang merusak cantiknya.  Akupun hanyalah apa. Sepotong jiwa yang miring ke kiri dan terkadang condong ke kanan. Jiwa yang seringkali lupa, bahwa sebuah rasa percaya adalah janin dari persahabatan. Bahwa kebohongan adalah noda yang sukar untuk dibersihkan. Meski mohon kepada hujan agar turun selama lamanya. Agar terkupas bekasnya yang membelit hati. Meski minta dengan sangat agar kering datang tiba tiba. Agar membakarnya jadi abu tak tersisa.
Maafkan aku. Jiwa yang sering lupa apa itu arti, apa itu makna. Maafkan aku. Hati yang sering alpa pada janji dan rasa percaya.  Maafkan aku. Dari kedalaman tulang dan detak jantung yang ada.

Jakarta, 3 Agustus 2016
Do'a yang Mengalir

Menyaksikan....
Bau harum menguap ke udara
Ketika do'a do'a mengalir
Seperti liukan ular di tanah berumput
Memanjat perlahan mendaki langit
Semerbaknya membangunkan hati
Menipiskan rasa amarah dan dengki
Menebalkan kekuatan menghadapi sepi
Kemudian tertunduk nikmati hangatnya malam.

Meluruhkan dendam yang masih berdiam tak mau pergi.
Tersimpan di sudut tergelapnya jiwa.
Mencoba ikuti aliran darah di sekujur tubuh.
Hingga tak mampu melawan.
Atau berupaya terjaga
Dari mimpi yang selalu datang tanpa permisi.

Do'a yang mengalir,
Seperti air.
Adalah do'a yang menyuburkan hati
Akan kebaikan dan kebajikan
Do'a yang merayapi angkasa,
Seperti udara.
Adalah do'a yang menghidupkan jiwa
Akan indahnya kepedulian dan rasa kemanusiaan, serta hakikat kemuliaan.


Bogor, 2 Agustus 2016

Thursday, 7 July 2016

MAAF

M A A F

Bogor, 22 Mei 2016

Maafkan aku
Atas janjiku turunkan air hujan di pelataran
Atas janjiku menata satu demi satu bintang yang berserakan
Atas janjiku beri tirai wajah bulan saat sinarnya mulai padam
Atas janjiku buai ayunan di setiap hari yang terberkahkan
Atas janjiku menulis hikayat panjang tentang pengembaraan
Atas janjiku selesaikan menjahit sampul buku perjalanan
Atas janjiku untuk bangunkan saat subuh menjelang
Atas janjiku ucapkan salam saat siang beranjak pulang
Atas janjiku merangkai sajak  manis saat kau merasa hilang

Maafkan aku
Karena membuat tangis yang tak akan lekang dari ingatan
Karena melukai janji yang tak mudah untuk terlupakan