Maaf Benar Benar. Benar Benar Maaf.
Gunung memang menjulang tinggi. Tapi kabut masih bisa
menyelimutinya hingga tak nampak. Sehingga seringkali pandangannya membuta tak
sengaja. Laut memang dalam. Namun karang
bisa saja bermunculan di sela sela ombaknya. Sehingga haluan bisa tergores
karenanya. Awan memang terlihat putih dan bersih. Hanya saja saat air
menggelayutinya begitu berat. Maka kelabu dan hitam lah yang merusak
cantiknya. Akupun hanyalah apa. Sepotong
jiwa yang miring ke kiri dan terkadang condong ke kanan. Jiwa yang seringkali
lupa, bahwa sebuah rasa percaya adalah janin dari persahabatan. Bahwa
kebohongan adalah noda yang sukar untuk dibersihkan. Meski mohon kepada hujan
agar turun selama lamanya. Agar terkupas bekasnya yang membelit hati. Meski
minta dengan sangat agar kering datang tiba tiba. Agar membakarnya jadi abu tak
tersisa.
Maafkan aku. Jiwa yang sering lupa apa itu arti, apa itu
makna. Maafkan aku. Hati yang sering alpa pada janji dan rasa percaya. Maafkan aku. Dari kedalaman tulang dan detak
jantung yang ada.
No comments:
Post a Comment