Saturday, 13 August 2016

Maaf Benar Benar. Benar Benar Maaf.


Gunung memang menjulang tinggi. Tapi kabut masih bisa menyelimutinya hingga tak nampak. Sehingga seringkali pandangannya membuta tak sengaja. Laut memang dalam.  Namun karang bisa saja bermunculan di sela sela ombaknya. Sehingga haluan bisa tergores karenanya. Awan memang terlihat putih dan bersih. Hanya saja saat air menggelayutinya begitu berat. Maka kelabu dan hitam lah yang merusak cantiknya.  Akupun hanyalah apa. Sepotong jiwa yang miring ke kiri dan terkadang condong ke kanan. Jiwa yang seringkali lupa, bahwa sebuah rasa percaya adalah janin dari persahabatan. Bahwa kebohongan adalah noda yang sukar untuk dibersihkan. Meski mohon kepada hujan agar turun selama lamanya. Agar terkupas bekasnya yang membelit hati. Meski minta dengan sangat agar kering datang tiba tiba. Agar membakarnya jadi abu tak tersisa.
Maafkan aku. Jiwa yang sering lupa apa itu arti, apa itu makna. Maafkan aku. Hati yang sering alpa pada janji dan rasa percaya.  Maafkan aku. Dari kedalaman tulang dan detak jantung yang ada.

Jakarta, 3 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment