Saturday, 13 August 2016

KEADILAN

Di sebuah sudut desa yang anggun oleh ketenangan dan ketenteraman, pagi itu terlihat muram.  Warung kopi dan jajanan yang biasanya terbuka lebar dengan asap terkepul dari kayu bakar yang setengah basah tersiram embun, sekarang menutupi tubuhnya rapat-rapat.  Seakan-akan enggan kulitnya yang kelabu terbakar matahari yang sebenarnya selalu ramah.  Sapi dan bajak yang biasanya tak henti hilir mudik saling menyapa, kini lebih senang meringkuk dalam keterasingan masing-masing.  Menikmati saat-saat terakhir kebersamaan mereka sebagai budak manusia.
Perubahan sikap itu mulai timbul ketika mereka menerima kabar bisikan dari terompah yang hanyut di kali Mayung kemarin.  Bahwa esok hari akan datang rombongan tuan-tuan dari kota yang hendak mengukur setiap pori-pori tanah desa itu sebagai lahan pembuatan lapangan permainan khusus tuan-tuan Dasi.
Sebelumnya penghuni desa itu memang sudah diberitahu melalui surat perintah, bahwa jagung dan padi, berikut sawah dan tegalan, hendak ditukar dengan segerobak permata dan masih ditambah lagi dengan bonus beberapa keping intimidasi.
Tetapi mereka terlalu bahagia untuk mengacuhkan perintah yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh keluguan mereka.  Sekarang, kebahagiaan itu rasa-rasanya sudah muntup-muntup di ujung hidung, menunggu saat keluar dengan paksa.
Ternyata di tengah keputusasaan yang mencengkeram urat nadi desa, masih ada cangkul tua yang berlari-lari mengelilingi sawah dan tegalan untuk bercanda dengan air yang mengikutinya dari belakang.  Seolah tidak lagi memperdulikan pergulatan antara kesewenangan dan ketidakmengertian yang begitu kentara menghiasi hari itu.  Dia hanya ingin menikmati keindahan watak sederhana, tanpa mau mendengar segala macam tipu menipu politik, tukar menukar kursi kekuasaan, atau bahkan pembantaian massal ide-ide yang dicap provokatif.   Kesetiaan pada tradisi merupakan prinsip hidupnya yang tidak bisa ditawar lagi.  Meskipun disana-sini bermunculan golongan yang merasa dikecewakan dan lalu berusaha mendobrak nilai-nilai tradisi yang dianggap buta terhadap gelombang kemapanan yang sebetulnya sering njomplang ke kanan kiri.  Konsekuensinya, terjadi keterikatan untuk memihak, lantas menimbulkan konflik berkepanjangan yang tidak akan pernah berhenti kecuali nurani ikut turun tangan.
Sementara itu rombongan tuan-tuan Dasi dari kota sudah tiba.  Mereka mengelilingi segala penjuru desa untuk melihat-lihat di lokasi mana nantnya ini didirikan, itu dibangun dan ini itu dirobohkan.
Kereta yang mereka tumpangi berderak pongah saat melewati jalanan berbatu.  Berputar-putar menghabiskan waktu, untuk mengejek kebodohan yang jelas terpampang di hadapan mereka.  Tetapi rombongan ini terkejut dan kemudian berhenti dengan benak penuh tanya ketika melihat masih ada penghuni desa itu yang bekerja di sawah.
Pimpinan rombongan segera turun dari kereta untuk memastikan sebuah jawaban.  Dia menghampiri cangkul tua yang sedang sibuk itu.  Tubuhnya yang bergaris-garis mewah terlihat begitu meyakinkan saat berhadapan dengan si cangkul yang berwarna uzur.
“Selamat pagi, wahai cangkul yang terhormat”
Dengan lagak menyebalkan sang dasi menyapa
“Selamat pagi tuan.  Angin apakah yang membawa tuan tega beramah-ramah dengan saya?”
Cangkul tua menjawab penuh teka-teki
“Apakah kamu tidak mengenali aku? Atau minimal atribut yang aku pakai?”
“Tuan terlalu terkenal untuk dapat kami lupakan.  Apalagi wajah tuan yang begitu cerah memancarkan kemakmuran yang selalu membuat kami bangga.”
Sang dasi melayangkan pandangannya sejenak pada hamparan sawah menghijau yang terlihat sejuk.  Tetapi dia tidak tahan untuk berpura-pura terlalu lama.
“Mengapa kamu masih bekerja disini? Bukankah seharusnya kamu mngemasi barang-barangmu dan segera pergi dari tanah ini?”
“Maksud tuan meninggalkan tanah yang telah menghidupi kami sekian lama, membesarkan anak-anak dan melahirkan cucu-cucu kami? Maaf, jawabnya adalah tidak!”
“Hmm.  Kalau begitu terpaksa kami menggunakan segala kuasa yang telah kami beli untuk memaksamu angkat kaki dari sini”.
Mendengar ancaman seperti itu, si cangkul tua bukannya takut.  Malah dadanya yang kerempeng termakan usia dibusungkan penuh semangat.  Kata-katanyapun berubah menjadi heroik.
“Tanahku adalah bajuku.  Membeli tanahku sama saja menukar harga diriku dengan ketelanjangan.”
“Hey, sudra! Apakah kamu tidak melihat surat sakti di tanganku?”
“Aku tidak peduli!  Karena nasibku tidak ditentukan oleh sehelai kertas”.
“Kamu keras kepala!  Apakah kamu juga tetap tidak peduli jika kemelaratan terus mengangkangi keangkuhanmu?”
Dengan mengelus dada si cangkul menjawab kalem.
“Tuan.  Tolong pisahkan antara keadilan dengan kekayaan.  Jangan sampai tuan buta pada keadilan hanya karena tuan terlalu mendewakan kekayaan.”
Sang dasi tentu saja bertambah geram.  Bagaimana mungkin dia yang terpelajar dan terhormat, diberi kuliah tentang kehidupan oleh cangkul karatan yang untuk membacapun harus mengeja terlebih dahulu.
Tetapi nalarnya sudah terlalu buntu oleh keserakahan, sehingga sulit untuk memahami bahwa kesederhanaan lebih mampu membaca hidup secara gamblang.  Kemarahannya tidak terbendung lagi.
“Pokoknya aku tidak mau tahu!  Besok pagi, semua yang bernyawa di desa ini harus pergi.  Jika kalian masih membangkang, kalian akan menyesal mengapa harus lahir di dunia ini.”
Seolah menyambut kata-kata sang dasi, terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga.  Angin menderu-deru membawa pesan petaka.  Hujan deras bagai tertumpah dari langit.  Dan badai menyeringai kejam, memperlihatkan taringnya yang menghancurkan.
Sang dasi yang hanya tergantung pada leher manusia, tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan alam.  Tubuhnya diombang-ambingkan kesana-kemari, sehingga tanpa dapat dicegah lagi dia menjerat leher tuannya sendiri.
Untuk beberapa saat terdengar erangan yang memilukan.  Kemudian terhenti bersamaan dengan terkulainya leher dan lepasnya nafas fana.  Sedangkan sang dasi sendiri tercampak dalam kubangan lumpur penuh kotoran kerbau.  Tubuhnya tercabik-cabik.
Rupanya Yang Maha Bijaksana, melalui alam, telah memberikan keadilan-Nya.


Bogor, 1994




No comments:

Post a Comment