KEADILAN
Di sebuah sudut desa yang anggun oleh ketenangan dan ketenteraman, pagi
itu terlihat muram. Warung kopi dan
jajanan yang biasanya terbuka lebar dengan asap terkepul dari kayu bakar yang
setengah basah tersiram embun, sekarang menutupi tubuhnya rapat-rapat. Seakan-akan enggan kulitnya yang kelabu
terbakar matahari yang sebenarnya selalu ramah.
Sapi dan bajak yang biasanya tak henti hilir mudik saling menyapa, kini
lebih senang meringkuk dalam keterasingan masing-masing. Menikmati saat-saat terakhir kebersamaan
mereka sebagai budak manusia.
Perubahan sikap itu mulai timbul ketika mereka menerima kabar
bisikan dari terompah yang hanyut di kali Mayung kemarin. Bahwa esok hari akan datang rombongan
tuan-tuan dari kota yang hendak mengukur setiap pori-pori tanah desa itu
sebagai lahan pembuatan lapangan permainan khusus tuan-tuan Dasi.
Sebelumnya penghuni desa itu memang sudah diberitahu melalui surat
perintah, bahwa jagung dan padi, berikut sawah dan tegalan, hendak ditukar
dengan segerobak permata dan masih ditambah lagi dengan bonus beberapa keping
intimidasi.
Tetapi mereka terlalu bahagia untuk mengacuhkan perintah yang sama
sekali tidak bisa dimengerti oleh keluguan mereka. Sekarang, kebahagiaan itu rasa-rasanya sudah muntup-muntup di ujung hidung, menunggu
saat keluar dengan paksa.
Ternyata di tengah keputusasaan yang mencengkeram urat nadi desa, masih ada
cangkul tua yang berlari-lari mengelilingi sawah dan tegalan untuk bercanda
dengan air yang mengikutinya dari belakang.
Seolah tidak lagi memperdulikan pergulatan antara kesewenangan dan
ketidakmengertian yang begitu kentara menghiasi hari itu. Dia hanya ingin menikmati keindahan watak
sederhana, tanpa mau mendengar segala macam tipu menipu politik, tukar menukar
kursi kekuasaan, atau bahkan pembantaian massal ide-ide yang dicap
provokatif. Kesetiaan pada tradisi
merupakan prinsip hidupnya yang tidak bisa ditawar lagi. Meskipun disana-sini bermunculan golongan yang
merasa dikecewakan dan lalu berusaha mendobrak nilai-nilai tradisi yang dianggap
buta terhadap gelombang kemapanan yang sebetulnya sering njomplang ke kanan
kiri. Konsekuensinya, terjadi
keterikatan untuk memihak, lantas menimbulkan konflik berkepanjangan yang tidak
akan pernah berhenti kecuali nurani ikut turun tangan.
Sementara itu rombongan tuan-tuan Dasi dari kota sudah tiba. Mereka mengelilingi segala penjuru desa untuk
melihat-lihat di lokasi mana nantnya ini didirikan, itu dibangun dan ini itu dirobohkan.
Kereta yang mereka tumpangi berderak pongah saat melewati jalanan berbatu. Berputar-putar menghabiskan waktu, untuk
mengejek kebodohan yang jelas terpampang di hadapan mereka. Tetapi rombongan ini terkejut dan kemudian
berhenti dengan benak penuh tanya ketika melihat masih ada penghuni desa itu
yang bekerja di sawah.
Pimpinan rombongan segera turun dari kereta untuk memastikan sebuah
jawaban. Dia menghampiri cangkul tua
yang sedang sibuk itu. Tubuhnya yang
bergaris-garis mewah terlihat begitu meyakinkan saat berhadapan dengan si
cangkul yang berwarna uzur.
“Selamat pagi, wahai cangkul yang terhormat”
Dengan lagak menyebalkan sang dasi menyapa
“Selamat pagi tuan. Angin
apakah yang membawa tuan tega beramah-ramah dengan saya?”
Cangkul tua menjawab penuh teka-teki
“Apakah kamu tidak mengenali aku? Atau minimal atribut yang aku
pakai?”
“Tuan terlalu terkenal untuk dapat kami lupakan. Apalagi wajah tuan yang begitu cerah memancarkan kemakmuran yang selalu membuat kami
bangga.”
Sang dasi melayangkan pandangannya sejenak pada hamparan sawah
menghijau yang terlihat sejuk. Tetapi
dia tidak tahan untuk berpura-pura terlalu lama.
“Mengapa kamu masih bekerja disini? Bukankah seharusnya kamu
mngemasi barang-barangmu dan segera pergi dari tanah ini?”
“Maksud tuan meninggalkan tanah yang telah menghidupi kami sekian lama,
membesarkan anak-anak dan melahirkan cucu-cucu kami? Maaf, jawabnya adalah
tidak!”
“Hmm. Kalau begitu terpaksa
kami menggunakan segala kuasa yang telah kami beli untuk memaksamu
angkat kaki dari sini”.
Mendengar ancaman seperti itu, si cangkul tua bukannya takut. Malah dadanya yang kerempeng termakan usia
dibusungkan penuh semangat.
Kata-katanyapun berubah menjadi heroik.
“Tanahku adalah bajuku.
Membeli tanahku sama saja menukar harga diriku dengan ketelanjangan.”
“Hey, sudra! Apakah kamu tidak melihat surat sakti di tanganku?”
“Aku tidak peduli! Karena
nasibku tidak ditentukan oleh sehelai kertas”.
“Kamu keras kepala! Apakah
kamu juga tetap tidak peduli jika kemelaratan terus mengangkangi keangkuhanmu?”
Dengan mengelus dada si cangkul menjawab kalem.
“Tuan. Tolong pisahkan antara
keadilan dengan kekayaan. Jangan sampai
tuan buta pada keadilan hanya karena tuan terlalu mendewakan kekayaan.”
Sang dasi tentu saja bertambah geram. Bagaimana mungkin dia yang terpelajar dan
terhormat, diberi kuliah tentang kehidupan oleh cangkul karatan yang untuk
membacapun harus mengeja terlebih dahulu.
Tetapi nalarnya sudah terlalu buntu oleh keserakahan, sehingga sulit
untuk memahami bahwa kesederhanaan lebih mampu membaca hidup secara gamblang. Kemarahannya tidak terbendung lagi.
“Pokoknya aku tidak mau tahu!
Besok pagi, semua yang bernyawa di desa ini harus pergi. Jika kalian masih membangkang, kalian akan menyesal
mengapa harus lahir di dunia ini.”
Seolah menyambut kata-kata sang dasi, terdengar suara gemuruh yang
memekakkan telinga. Angin menderu-deru
membawa pesan petaka. Hujan deras bagai
tertumpah dari langit. Dan badai menyeringai kejam,
memperlihatkan taringnya yang menghancurkan.
Sang dasi yang hanya tergantung pada leher manusia, tentu saja tidak
bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan alam.
Tubuhnya diombang-ambingkan kesana-kemari, sehingga tanpa dapat dicegah
lagi dia menjerat leher tuannya sendiri.
Untuk beberapa saat terdengar erangan yang memilukan. Kemudian terhenti bersamaan dengan
terkulainya leher dan lepasnya nafas fana.
Sedangkan sang dasi sendiri tercampak dalam kubangan lumpur penuh
kotoran kerbau. Tubuhnya tercabik-cabik.
Rupanya Yang Maha Bijaksana, melalui alam, telah memberikan keadilan-Nya.
Bogor, 1994
No comments:
Post a Comment