Ketika Gunung Salak Redakan Amarah
Begini jika gunung salak terlihat murung. Alisnya
berkerut memandang kerumunan kota. Hatinya sedang dipenuhi rasa panas yang
membakar. Merasa sendiri terkepung keramaian yang melelahkan. Pinggangnya letih
menyangga bukit bukit yang makin lama makin tak berhelai rambut. Terkupas oleh
jaman dan sesaknya peradaban.
Kembali riang ketika teringat janjinya, pada senyuman
manis ciliwung. Yang terlebih lelah ketika membelah kegaduhan saat menuju
muara. Harus melalui jalan panjang berliku yang bukan main sunyinya. Sendirian
berjuang menaklukkan kerasnya waktu. Berkeringat darah yang tak lagi merah.
Gunung salak bergumam kagum. Matanya penuh cinta ketika
berujar pelan; "Saat kau mengaliri lereng lerengku, dingin amarah di
hatiku. Saat kau mencuci diri di lembah lembahku, sejuk amukan di jiwaku.
Teruslah mengalir hingga lautan, yang aku yakin, sangat beruntung menerimamu
dalam dekapan."
Bogor, 3 Agustus 2016
No comments:
Post a Comment