Saturday, 13 August 2016

Ketika Gunung Salak Redakan Amarah

Begini jika gunung salak terlihat murung. Alisnya berkerut memandang kerumunan kota. Hatinya sedang dipenuhi rasa panas yang membakar. Merasa sendiri terkepung keramaian yang melelahkan. Pinggangnya letih menyangga bukit bukit yang makin lama makin tak berhelai rambut. Terkupas oleh jaman dan sesaknya peradaban.

Kembali riang ketika teringat janjinya, pada senyuman manis ciliwung. Yang terlebih lelah ketika membelah kegaduhan saat menuju muara. Harus melalui jalan panjang berliku yang bukan main sunyinya. Sendirian berjuang menaklukkan kerasnya waktu. Berkeringat darah yang tak lagi merah.

Gunung salak bergumam kagum. Matanya penuh cinta ketika berujar pelan; "Saat kau mengaliri lereng lerengku, dingin amarah di hatiku. Saat kau mencuci diri di lembah lembahku, sejuk amukan di jiwaku. Teruslah mengalir hingga lautan, yang aku yakin, sangat beruntung menerimamu dalam dekapan."


Bogor, 3 Agustus 2016

No comments:

Post a Comment