Friday, 22 September 2017

Dalam Lupa, Itulah yang Tak Terlupa!

Inilah daftar saksi-saksiku saat itu
Beberapa pokok Avicennia sedang bersitegang dengan angin selatan
Pasir halus bergulir mengejar kepiting kecil yang berusaha keras menjilat asin air laut
Seekor camar dengan ujung sayap dipelintir angin
Sebatang nyiur sedang melafalkan lagu cinta negeri
Dan buih putih pecah berhamburan dibelah karang

Saksi-saksi yang melihatku memilih diam
Memaku tanah dengan tatapan kebingungan
Penuh pertanyaan
Tanpa ada jawaban
Dengan kau di hadapan

Barangkali benar apa kata tetua
Memang ada cinta pada bersiroboknya mata pertama
Seperti ketika awan saling bersetubuh
Lalu percikan kilat memanaskan seluruh tubuh

Setelahnya kemudian menjadi lakon yang terbata-bata
Tak ada kata
Tak muncul suara
Bahkan guncangan itu serasa gempa

Terimakasih Tuhan!
Atas satu-satunya kesempatan
Aku mengingatnya begitu dalam
Dalam banyak lupa, itulah yang tak pernah terlupa!

Jakarta, 21 September 2017



Sore Bergumam Ketika Aku Jatuh CInta

Gumamnya pelan,
sambil menumpang sehelai daun kering yang melayang jatuh;
“kau yang seperti kemarau, bersyukurlah ada hujan sedang menghampirimu.  Tetaplah di tempat jika kau memang menginginkan basah.  Larilah cepat jika kau terlalu memuja gelisah...”

Sore meneruskan gumamnya, kali ini serasa seperti auman,
sembari mencoret dinding langit dengan warna senja;
“kau yang bertingkah seperti badai, berterimakasihlah kepada cinta.  Redam anginmu yang berputar tak karuan arah.  Jikapun tidak, bantulah nelayan pulang dari lautan, atau tidurkan anak gembala di atas kerbaunya...”

Sebuah fragmen yang dipentaskan oleh sore ketika aku jatuh cinta
Menumpas dalam sekejap apa arti dari bodoh dan pongah
Jangan sekali-kali melarikan diri
Ketika cinta menyapamu pertama kali

Jakarta, 22 September 2017


Wednesday, 13 September 2017

Meraih Mimpi di Ranu Kumbolo

Sungguh tidak mudah meraih mimpi
Mendaki setengah Mahameru
Tiang tanah Jawa serupa tangga langit
Dengan nafas yang tersisa seperempatnya saja

Demi cinta
Kepada hijau yang mengelilingi danau layaknya semua daun di dunia tumpah di sana
Kepada beningnya permukaan kaca yang beriak ketika disentuh angin
Kepada dingin yang menimbulkan rasa ingin tahu apa itu beku
Kepada serangkaian tatap mata bahagia setelah tergapainya asa

Demi kisah
Tentang perjalanan sepanjang sungai Musi
Tentang lumpur dan bisu waktu tanah berguncang karena retakan ingat
Tentang setangkai melati yang tertatih bertahan dari air berbisa
Tentang rumpun kemuning yang kuyup karena airmata bukan sebab disirami

Demi waktu
Tersamarkan oleh desir angin yang mempermainkan pasir di sebuah pantai yang tak leluasa berbisik
Tercurahkan pada penyesalan yang digubah melalui Fur Elise sebagai bentuk pengharapan cinta
Tersematkan medali kemenangan atas perjuangan tak mati karena lelah dan robekan hati tertumpah

Demi segala sesuatu yang mengatasnamakan cinta, seutuh bulan ketika purnama, seterang matahari di puncak cahaya, sekencang angin saat bertiwikrama.

Menjadi badai tak terhentikan


Jakarta, 4 September 2017

Pohon dan Bunga yang Bersajak

Bagaimana aku bisa tersenyum
Jika aku selalu berdansa sendirian
Walau pagi seringkali memberi kesempatan
Seperti apa melakukan tarian

Sudah sepantasnya aku menyesali
Mengapa mengakali sepi dengan menelikung mimpi
Seharusnya aku mencari robekan kertas
Aku tanam di tanah yang subur agar tumbuh pohon dan bunga yang bisa bersajak

Jika pohon dan bunga saja bersajak
Untuk apa lagi saling melempar kerak
Duduklah kalian di sampingku
Nikmati seperti apa ketika daun daun berkata cinta
Nikmati bagaimana saat kamboja bersyair Ranggawarsita
Nikmati apa saja yang dikeluhkan Angsana lewat angin yang terlalu lama bertapa brata

Aku tak bertanya lagi bagaimana cara tersenyum
Pohon dan bunga yang bersajak
Membuatku bisa berdansa bersisian
Dengan sesuatu yang disebut kerinduan

Medan, 11 September 2017