Gumamnya
pelan,
sambil
menumpang sehelai daun kering yang melayang jatuh;
“kau
yang seperti kemarau, bersyukurlah ada hujan sedang menghampirimu. Tetaplah di tempat jika kau memang
menginginkan basah. Larilah cepat jika kau
terlalu memuja gelisah...”
Sore
meneruskan gumamnya, kali ini serasa seperti auman,
sembari
mencoret dinding langit dengan warna senja;
“kau
yang bertingkah seperti badai, berterimakasihlah kepada cinta. Redam anginmu yang berputar tak karuan
arah. Jikapun tidak, bantulah nelayan
pulang dari lautan, atau tidurkan anak gembala di atas kerbaunya...”
Sebuah
fragmen yang dipentaskan oleh sore ketika aku jatuh cinta
Menumpas
dalam sekejap apa arti dari bodoh dan pongah
Jangan
sekali-kali melarikan diri
Ketika
cinta menyapamu pertama kali
Jakarta,
22 September 2017
No comments:
Post a Comment