Wednesday, 13 September 2017

Meraih Mimpi di Ranu Kumbolo

Sungguh tidak mudah meraih mimpi
Mendaki setengah Mahameru
Tiang tanah Jawa serupa tangga langit
Dengan nafas yang tersisa seperempatnya saja

Demi cinta
Kepada hijau yang mengelilingi danau layaknya semua daun di dunia tumpah di sana
Kepada beningnya permukaan kaca yang beriak ketika disentuh angin
Kepada dingin yang menimbulkan rasa ingin tahu apa itu beku
Kepada serangkaian tatap mata bahagia setelah tergapainya asa

Demi kisah
Tentang perjalanan sepanjang sungai Musi
Tentang lumpur dan bisu waktu tanah berguncang karena retakan ingat
Tentang setangkai melati yang tertatih bertahan dari air berbisa
Tentang rumpun kemuning yang kuyup karena airmata bukan sebab disirami

Demi waktu
Tersamarkan oleh desir angin yang mempermainkan pasir di sebuah pantai yang tak leluasa berbisik
Tercurahkan pada penyesalan yang digubah melalui Fur Elise sebagai bentuk pengharapan cinta
Tersematkan medali kemenangan atas perjuangan tak mati karena lelah dan robekan hati tertumpah

Demi segala sesuatu yang mengatasnamakan cinta, seutuh bulan ketika purnama, seterang matahari di puncak cahaya, sekencang angin saat bertiwikrama.

Menjadi badai tak terhentikan


Jakarta, 4 September 2017

No comments:

Post a Comment