Sungguh
tidak mudah meraih mimpi
Mendaki
setengah Mahameru
Tiang tanah
Jawa serupa tangga langit
Dengan nafas
yang tersisa seperempatnya saja
Demi cinta
Kepada hijau
yang mengelilingi danau layaknya semua daun di dunia tumpah di sana
Kepada beningnya
permukaan kaca yang beriak ketika disentuh angin
Kepada
dingin yang menimbulkan rasa ingin tahu apa itu beku
Kepada
serangkaian tatap mata bahagia setelah tergapainya asa
Demi kisah
Tentang perjalanan
sepanjang sungai Musi
Tentang
lumpur dan bisu waktu tanah berguncang karena retakan ingat
Tentang setangkai
melati yang tertatih bertahan dari air berbisa
Tentang
rumpun kemuning yang kuyup karena airmata bukan sebab disirami
Demi waktu
Tersamarkan
oleh desir angin yang mempermainkan pasir di sebuah pantai yang tak leluasa
berbisik
Tercurahkan
pada penyesalan yang digubah melalui Fur Elise sebagai bentuk pengharapan cinta
Tersematkan
medali kemenangan atas perjuangan tak mati karena lelah dan robekan hati
tertumpah
Demi segala
sesuatu yang mengatasnamakan cinta, seutuh bulan ketika purnama, seterang
matahari di puncak cahaya, sekencang angin saat bertiwikrama.
Menjadi
badai tak terhentikan
Jakarta, 4
September 2017
No comments:
Post a Comment