Bab I
Glagahwangi. Sebuah desa yang sunyi. Malam ketika bulan sedang memamerkan tubuhnya
yang sempurna. Angin juga bertiup begitu
lambat. Selambat sebuah bayangan yang berjalan mengendap endap di pelataran
sebuah rumah kecil dengan pelataran yang luas. Sosoknya kecil dan ramping. Sosok tubuh wanita. Sebilah belati panjang terselip di
pinggangnya. Langkah kakinya yang sangat
ringan membawanya mendekat ke arah pintu yang tertutup rapat. Dirapatkannya telinga ke dinding anyaman
bambu itu. Pendengarannya dipertajam, karena lirih sekali terdengar desahan
nafas orang yang sedang tertidur.
Setelah merasa yakin hanya ada 2 orang yang sedang tertidur di dalam
rumah itu. Wanita itu kemudian mencabut sesuatu dari balik pinggangnya. Benda kecil berbentuk pipih dengan pegas di
sisi luarnya. Membidik ke arah angkasa,
dan...
“Wuuussss.....”
Sebuah sinar
kecil berwarna kemerahan membelah udara.
Meledak dan membesar di angkasa tanpa mengeluarkan suara
sedikitpun. Sebuah suar isyarat. Wanita
itu melangkah hati-hati sambil memperhatikan arah tempat dia datang tadi. Dari kejauhan, berkelebat cepat beberapa
sosok berseragam kerajaan. Melihat dari
caranya berlari. Pastilah tiga orang itu
orang orang yang berilmu tinggi. Saat
tiga bayangan itu telah mendekat, nampaklah bahwa betapa mencolok perbedaan di
antara mereka. Orang pertama bertubuh
tinggi kurus dengan hidung bengkok seperti burung hantu. Sering disebut sebagai Iblis Jompo Laut Timur.
Tokoh persilatan berilmu tinggi yang telah mengabdikan hidupnya pada kerajaan
Majapahit sejak masih muda. Terkenal
dengan kekejaman dan kelicikannya, akan tetapi tetap dipercaya oleh Mahapatih Gajahmada karena kerajaan
sangat membutuhkan orang orang berilmu tinggi yang setia pada kerajaan. Orang kedua bertubuh luar biasa gendut. Saking gendutnya, baju yang dikenakannya
tidak bisa terkancing rapat sehingga tampaklah perutnya yang telanjang. Dikenal sebagai tokoh sakti dunia persilatan
yang dijuluki Bangka Sakti Merapi. Orang ketiga sangat berkebalikan dengan dua
pertama yang tidak karuan bentuknya.
Seorang pemuda tampan berwajah bersih.
Sangat rapi dan perlente. Tokoh
yang dikenal sebagai pemetik kembang di dunia persilatan. Punya ilmu kanuragan yang tinggi dan biasa disebut
dengan Hidung Belang Pesisir Barat. Tiga orang ini adalah tangan kanan Mahapatih Gajahmada di kalangan
persilatan.
Secepat
datangnya, ketiga orang ini segera bergabung dengan wanita tadi. Setelah diperhatikan dalam temaram lampu,
adalah seorang wanita yang cantik.
Berbaju ringkas hitam hitam. Khas
baju telik sandi Kerajaan Majapahit.
Seorang wanita kepercayaan Mahapatih Gajahmada dari kalangan pasukan kerajaan
bernama Dyah Puspita.
Kala itu, Mahapatih Gajahmada menciptakan sebuah
struktur pasukan yang sangat lengkap.
Pasukan reguler yang dikepalai oleh seorang Panglima Perang Pertama.
Pasukan khusus pengawal kerajaan yang dipimpin juga oleh seorang Panglima Kerajaan
Pertama. Pasukan Sayap Sima adalah
pasukan yang dibentuk dengan anggota dari dunia persilatan yang telah bersumpah
setia kepada kerajaan dan dipimpin oleh seorang resi bernama Resi Tunggal Jiwo. Tokoh dunia putih yang terkenal sakti
mandraguna dari Padepokan Suralaya. Di
bawah Resi Tunggal Jiwo ada lima
orang penting yang terdiri dari tokoh dunia hitam dan putih, yaitu Iblis Jompo Laut Timur, Bangka Sakti Merapi,
Hidung Belang Pesisir Barat, Pendekar Pena Menawan, dan Laksamana Utara. Kemudian yang terakhir adalah pasukan telik
sandi yang dipimpin oleh Dyah Puspita,
wanita cantik murid tunggal dari Resi
Tunggal Jiwo.
Bisa dibayangkan
betapa pentingnya orang yang sedang mereka satroni sekarang. Hingga empat orang tokoh penting Mahapatih
Gajahmada harus turun langsung menghadapinya.
Keempatnya sekarang membentuk formasi melingkar di sekitar rumah agar
tidak ada kesempatan melarikan diri bagi penghuninya.
“Arya Prabu!! Keluarlah!...Kisanak sudah
terkepung! Tidak ada gunanya melawan atau melarikan diri. Kami utusan dari Mahapatih Gajahmada ditugaskan untuk membawamu hidup atau mati!”
Dyah Puspita mengeluarkan peringatan
dengan suaranya yang melengking tinggi.
Terdengar
gerakan dari dalam rumah. Seperti seseorang sedang berkemas dengan cepat dan
tergesa gesa.
“Brakkkk.....Blaarrr.....” Atap rumah jebol dan melesatlah sesosok
bayangan tinggi dengan menggendong sesuatu di punggungnya di atas atap. Melihat ke sekeliling dengan penuh
kewaspadaan. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat berwarna keemasan.
“Hmmm...Dyah Puspita. Aku sudah lama mengenal dan sangat
menghormati ayahmu. Kenapa kau harus datang
ke rumahku dan membawa begundal-begundal hitam ini. Seandainya kau datang sendiri, mungkin aku
masih bersedia berunding dengan damai.”
Laki laki
yang dipanggil Arya Prabu itu berkata
dengan lantang. Berumur hampir setengah
baya. Berperawakan tinggi kurus dan
terlihat berwibawa. Tongkatnya yang
berwarna keemasan menyala terang karena Arya
Prabu sedang mengerahkan ajian kanuragannya.
Dyah Puspita agak bergidik melihat
tongkat itu. Dia tahu bahwa yang
dihadapinya ini bukanlah orang sembarangan.
Arya Prabu adalah keluarga
kerajaan Majapahit. Bekas pimpinan Sayap
Sima dua puluh tahun yang lalu dan dijuluki Sima
Agung. Sepupu dari Raja Majapahit
yang sejak lama memang tidak pernah patuh dan tunduk terhadap aturan kerajaan
karena tidak setuju dengan adanya beberapa tokoh hitam ikut bergabung dalam
Sayap Sima.
Menoleh
kepada tiga orang yang sudah bergabung dengannya dan berkata;
“Paman
bertiga, kita diminta untuk mencari dan menangkapnya hidup hidup jika
bisa. Harap paman bertiga ingat itu.”
“Aku tidak peduli
dia tertangkap hidup atau mati,” dengus Bangka
Sakti Merapi pendek.
Hidung Belang Pesisir Barat menimpali;
“Paduka Arya Prabu yang hebat. Perkenankan saya menawarkan sesuatu kepada
paduka. Menyerah dan pengadilan kerajaan
akan memutuskan hukuman paduka atau pilih melawan kami yang paduka tahu tidak
bisa paduka menangi.”
Iblis Jompo Laut Timur juga tidak mau
kalah gertak, suaranya lirih dan bergetar namun mengandung kekuatan menaklukkan
karena diam diam dia menyisipkan sihir penakluk;
“Sima Agung, aku
sudah lama tahu bahwa kau tidak suka kami bergabung dalam Sayap Sima. Aku juga tahu bahwa kau adalah menantu ponakan
Raja Blambangan. Tapi aku tidak
takut. Kau dulu pernah mengalahkan aku
dalam adu tanding kanuragan di istana. Aku yakin sekarang bisa mengalahkanmu
dengan mudah. Benar apa yang dikatakan
gadis cantik ini. Sebaiknya kau menyerah
dan aku hanya akan mencopot sebelah kakimu saja”. Udara di sekeliling tokoh-tokoh yang akan
bertempur itu mendadak menipis dan pasti akan membuat sesak nafas bagi siapapun
yang tidak memiliki daya linuwih yang cukup.
Sihir Penakluk memang dahsyat.
Selain mengandung kekuatan tenaga dalam yang kuat, juga disisipi oleh
mantra hitam yang hebat.
Tapi hal ini
sepertinya tidak terlalu berpengaruh pada Arya
Prabu. Tongkatnya berubah menjadi
kemerahan seperti nyala api. Inilah yang
membuat Arya Prabu sangat terkenal
dahulu. Ajian Geni Sewindu yang menjadi
andalannya sekarang dikeluarkan sepenuhnya.
Selain tongkatnya yang menyala terang, tangannya pun diselimuti oleh api
berwarna kebiruan.
“Dyah Puspita. Aku tidak mau mencari permusuhan
denganmu. Apakah kau tahu bahwa yang
dituduhkan sang Mahapatih itu tidak benar.
Beliau termakan isu yang dihembuskan oleh cecunguk centil pesolek itu.”
Ujarnya sembari menuding marah ke arah Hidung
Belang Pesisir Barat.
“Paduka
Paman, para telik sandi kerajaan telah
lama mengikuti gerak gerik Paman. Kami
sudah mengumpulkan banyak informasi tentang kedekatan Paman dengan Kerajaan
Blambangan. Juga rencana besar Kerajaan
Blambangan untuk mengacau kekuasaan Majapahit.
Dan itu didukung oleh Paman.” Dyah Puspita menjelaskan dengan ringkas
sambil mulai mempersiapkan diri.
“Paduka Paman
adalah keluarga dekat kerajaan.
Mengingat hal itu dan bahwa Paman juga pernah dekat dengan Paduka
Mahapatih, maka ampunan kerajaan bisa diberikan jika Paman mau ikut kami dengan
sukarela dan bersedia membeberkan apa rencana besar Kerajaan Blambangan
terhadap Majapahit.......Kami juga..........
“Dukk...Dukk...Dukk...”
Belum selesai
kalimat Dyah Puspita, tiba tiba Bangka Sakti Merapi melayangkan sebuah
pukulan hebat ke arah Arya Prabu.
Tubuhnya yang gendut melayang ringan mengitari Arya Prabu. Luar biasa memang. Tubuh segendut itu ternyata sangat ringan
ketika menggerakkan diri bertempur.
Bayangannya berkelebatan mengirimkan banyak pukulan mematikan. Muncul asap hijau kehitaman di
lengannya. Tanda Bangka Sakti Merapi mengeluarkan Pukulan Wedhus Gembel yang
mengerikan. Arya Prabu menandinginya dengan kecepatan yang tak kalah
mengejutkan. Lengannya yang diselubungi
api menangkis dengan cepat semua pukulan mematikan itu. Bahkan mampu mendesak
mundur dan membuat kerepotan Bangka Sakti
Merapi.
Bayangan lain
berkelebat mengirimkan pukulan yang mendesis desis. Iblis
Jompo Laut Timur membantu Bangka Sakti
Merapi dengan mengerahkan ajiannya yang dinamakan Jurus Racun Timur. Suara desisan pukulan itu diikuti bau tengik
memuakkan hidung. Lawan yang tangguhpun
akan terpengaruh oleh bau racun yang diambil dari saripati kalajengking berbisa
itu. Tapi Arya Prabu dengan tenangnya melayani dua lawan hebat ini.
Api sekarang
tidak hanya membungkus lengannya.
Seluruh badan Arya Prabu
diselimuti api yang menyala nyala.
Herannya bungkusan yang digendong di punggungnya tidak ikut
terbakar. Tiga orang yang sedang bertempur
itu tidak nampak lagi wujudnya. Hanya
bayangan berkelebatan, daun daun beterbangan, asap hitam, hijau dan api
kemerahan saja yang nampak mata. Arya
Prabu sekarang hanya bisa mengimbangi saja pukulan-pukulan lawan. Selain lawan lawan yang sangat berat, bungkusan
besar di punggungnya membuat gerakannya terbatasi. Dia mengkhawatirkan keselamatan putranya yang
ada dalam bungkusan di punggungnya.
Hebatnya, dia tidak mendengar putranya menangis atau menjerit-jerit
ketakutan.
Dyah Puspita menonton dengan jantung
berdentam dentam. Dia tahu pertempuran
ini berimbang dan akan berlangsung dalam waktu yang tidak sebentar. Dia tidak bisa memasuki gelanggang
pertempuran karena sadar hanya akan mengganggu konsentrasi dua sekutunya yang
sedang bertempur dengan tokoh sakti itu.
Diliriknya Hidung Belang Pesisir
Barat sedang memperhatikan pertempuran itu dengan seksama tapi dengan
senyum simpul di sudut mulutnya.
Dilihatnya kedua tangannya dimasukkan ke dalam jubah dan kelihatan
sedang mengambil sesuatu. Dyah Puspita menajamkan matanya, mencoba
memastikan benda apa yang sedang diambil oleh Hidung Belang Pesisir Barat.
Dua benda kecil berkilat dengan ujung berwarna merah darah.
Senjata
rahasia?! Pikir Dyah Puspita dengan
gelisah. Kemudian bergerak cepat
mendekati.
Tapi dia
terlambat sepersekian masa. Hidung Belang Pesisir Barat menggerakkan
tangannya dan meluncurlah dua senjata rahasia ke arah bayangan-bayangan yang
sedang bertempur itu.
“siuuutttt....clap
clap....uaaahhh!.....bukk...bukkkk!”
Sesosok
bayangan terpental keluar dari arena pertempuran. Arya
Prabu terlihat mengusap sudut mulutnya yang mengeluarkan darah segar. Dia terkena pukulan telak di dada oleh Iblis Jompo Laut Timur dan di punggung
oleh Pukulan Wedhus Gembel Bangka Sakti
Merapi. Lehernya menghitam dan
mukanya merah seperti udang yang direbus.
Disentuhnya lehernya untuk mencabut dua benda kecil yang menancap. Senjata rahasia Hidung Belang Pesisir Barat.
Arya Prabu berdiri sempoyongan. Tangannya berpegangan erat pada
tongkatnya. Dia sadar lukanya sangat
parah. Senjata rahasia Hidung Belang Pesisir Barat terkenal
dengan racunnya yang sangat mematikan.
Dia memejamkan mata, mengumpulkan segenap tenaga dalam dan menyalurkan
pada tubuhnya yang terluka. Terutama
menutup aliran darah di leher agar racunnya tidak semakin menjalar ke seluruh
tubuhnya.
Dyah Puspita mendelikkan matanya kepada Hidung Belang Pesisir Barat.
“Kau curang Mandara!
Perbuatanmu sungguh memalukan.....”
Melompat ke
arah Arya Prabu dan berdiri
membelakanginya sambil bertolak pinggang ke arah 3 sekutunya.
“Hentikan
paman. Cukup! Dia sudah terluka
parah. Biar dia mengobati diri
dulu. Setelah itu baru kita bawa ke
ibukota kerajaan.”
Ketiga orang
itu saling bertatapan mata. Hidung Belang Pesisir Barat melangkah ke
depan selangkah.
“Dyah Puspita, dia sudah sekarat. Racunku sudah menjalar di tubuhnya. Paling
lama empat jam lagi dia sudah tewas. Kasihan
kalau dia harus tersiksa selama itu.
Biarkan kami menyelesaikannya. Toh
Mahapatih tidak mensyaratkan harus ditangkap hidup hidup.” Sambil tetap maju selangkah demi selangkah
menghampiri Arya Prabu diikuti oleh
kedua rekannya. Mereka masih dalam
posisi siaga dan waspada. Karena terluka
separah itupun, Arya Prabu masih akan
sanggup membunuh.
“Tidak
Mandara! Semua keputusan ada di tanganku sesuai perintah Mahapatih. Kita tetap akan membawa dia hidup hidup.” Dyah
Puspita berkeras mencoba menahan niat membunuh yang jelas jelas terpampang
di mata mereka. Akan tetapi tiga tokoh
itu tetap menghampiri perlahan. Kedua
tangan Hidung Belang Pesisir Barat
dipenuhi oleh senjata rahasia. Bangka Sakti Merapi mempersiapkan
pukulan Wedhus Gembelnya yang terakhir.
Sementara Iblis Jompo Laut Timur
bersiap menjatuhkan pukulan mematikan racun timurnya.
Arya Prabu yang sedang tersengal menahan
sakit sambil bersila, berbisik pelan kepada Dyah
Puspita.
“Dyah Puspita, tolong selamatkan anakku. Dia ada di gendongan belakang. Bawa dia ke padepokan ayahmu. Segeralah pergi. Aku mohon....Biar aku selesaikan urusanku
dengan mereka. Kau juga akan menjadi
korban mereka jika tidak segera meninggalkan tempat ini.”
Dyah Puspita memandang bungkusan kain di
pundak belakang Arya Prabu dengan
terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata bungkusan itu berisi
seorang anak kecil. Tangan Arya Prabu menyentuh pundak Dyah Puspita dengan halus. Suaranya bergetar aneh penuh wibawa.”Pergilah
sekarang...bawa anakku... sekarang.” Ada getaran halus dan aneh yang merasuki
jiwa Dyah Puspita. Tanpa berkata apa apa diraihnya gendongan itu
dan melesat pergi sambil berkata nyaring.
“Paman berdua, Aku pergi.
Tapi ingat! Apa yang terjadi hari
ini di luar semua tanggung jawabku.”
Bayangannya kemudian melesat ke arah bukit batu di sebelah timur yang
dipenuhi oleh rimbun pepohonan.
Hidung Belang Pesisir Barat
mengrenyitkan hidungnya. Jalan ke arah
Ibukota Majapahit bukanlah arah yang dituju Dyah
Puspita. Tapi dia kembali memusatkan
perhatiannya kepada Arya Prabu.
Secara serentak
ketiga tokoh itu melancarkan serangan terakhir yang mematikan. Terdengar debuman keras saat pukulan ketiga
tokoh itu bertemu dengan tangan api Arya
Prabu. Tubuh Arya Prabu terlontar ke
udara dan kemudian terhempas ke tanah sepuluh depa. Mulutnya memuntahkan banyak darah. Kemudian duduk bersila, mengatur nafas dan
memejamkan mata.
Hidung Belang Pesisir Barat terbungkuk
bungkuk menahan sakit di dadanya.
Sedikit darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Diapun segera duduk bersila untuk memulihkan
tenaga dan luka dalam di tubuhnya.
Bangka Sakti Merapi lebih parah
lagi. Tubuhnya terjengkang hebat. Tangannya tergantung di samping tubuhnya tak
berdaya. Kedua tangannya ternyata patah
dan remuk akibat benturan dahsyat tadi.
Dengan susah payah tokoh gendut itu duduk bersila dan mencoba memulihkan
diri.
Iblis Jompo Laut Timur tidak lebih baik. Dia bahkan tidak sanggup berdiri atau
bersila. Cairan kental darah dari mulut
dan telinganya menandakan bahwa lukanya cukup parah. Sambil menahan sakit luar biasa di dadanya. Iblis sakti ini juga mencoba memulihkan
diri.
Keheningan
kemudian sangat mencekam. Suara daun
yang jatuh mendarat di permukaan tanah bahkan seperti suara ledakan
meriam. Selain menahan sakit, ketiga
tokoh ini terlihat sangat khawatir.
Betapa tidak? Ketiga tenaga yang
mereka gabungkan tadi ibarat tenaga dari letusan gunung berapi. Namun mereka masih saja terluka cukup hebat. Jika Arya
Prabu melanjutkan serangannya dengan kondisi mereka saat ini, tak ayal
mereka pasti akan menemui ajal. Seperti
dikomando, ketiganya melihat ke arah Arya
Prabu. Tapi yang dilihat hanya
terlihat duduk bersila dengan tenang puluhan depa di depan mereka. Hidung
Belang Pesisir Barat memicingkan mata memperhatikan. Arya
Prabu terlihat duduk bersila dengan tenang.
Namun telah kehilangan nafas terakhirnya. Dengan tenang dia segera melanjutkan proses pemulihan
diri.
*