Saturday, 13 August 2016

SEHELAI DAUN DAN EKOR BURUNG ELANG

Hari yang cerah. Langit tampak ramah. Biru dan beningnya tampak melapisi segala permukaan.  Dari lidah gelombang sampai sayap-sayap burung camar, dari selimut pepohonan hutan sampai ujung tengkuk pencakar langit, dari hentakan geram seorang kenek oplet sampai lengkingan indah tangis bayi.  Tidak akan ada yang sanggup mengerti, biru itu apa dan bening itu untuk siapa. Menakjubkan.
Tapi kanvas yang terlukis indah itu tiba-tiba ternoda oleh darah.  Dari pundak awan yang tersangkut diatas cemara, meluncur tubuh kaku dengan sayap patah.  Seekor elang terkapar di rerumputan.  Sekujur tubuhnya berjubah darah.  Rerumputan yang menyangga tubuhnya harus menahan napas, karena mencium bau amis dan tajam, bau daging sobek dan sisa mesiu.
“Ya Allah! Apa yang terjadi?”
Seekor cacing mengiba sambil tertunduk lemas.  Lalu digalinya tanah perlahan-lahan hingga terciptalah  sebuah lubang.  Sebuah lubang kuburan.
Angin menghembus dari barat, membawa serta sehelai daun kering dan menurunkannya dengan lembut diatas rumput.  Daun renta itu memandang sekeliling.  Sepi dan mencekam.  Lalu matanya tertumbuk pada sehelai bulu ekor yang terkapar lemas tak bertuan.
“Wahai ekor sunyi, dimanakah tuanmu berada? Kenapa keningmu bergurat amarah? Adakah yang terusir dari jantungmu?”
Helaian ekor itu menengok dan tersenyum kecut.
“Tidak hanya jantungku yang terusir kawan, bahkan sisa air matakupun mereka ambil.  Dulu aku melayang dengan bangga bersama tuanku.  Sekarang aku terbaring sendirian diatas kuburannya.
Daun itu menundukkan muka.  Pipinya yang keriput terlihat basah.  Suaranya terdengar sayup-sayup seperti orang kesakitan. 
“Apa yang kau alami itu adalah hukum kawan.  Entah itu hukum rimba atau hukum manusia, tapi yang pasti manusia adalah tuan dari tuan kita.  Sampai setua ini belum juga aku mengerti, mengapa ambisi manusia bisa melebihi panasnya matahari, mengapa hati manusia lebih dingin dari salju, dan mengapa keangkuhan manusia bisa lebih tinggi dari puncak himalaya.  Kalau kau bisa mengerti itu semua, maka kematian tuanmu bukanlah apa-apa”.
Helaian ekor itu mengangguk-angguk. Mencoba meresapi apa yang telah dikatakan oleh sang daun tua.
“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan wahai daun perkasa?”
“Mintalah pada angin untuk mengantarmu mengembara, carilah kebenaran dari ucapanku tadi.”

Esok harinya, sebelum pagi berkemas pulang, helaian ekor itu meminta tumpangan pada angin yang lewat untuk membawanya pergi.  Ditelusurinya waktu demi waktu, tempat demi tempat.  Apa yang dilihatnya benar-benar membuka pengertiannya tentang sisi-sisi hidup.  Tajam maupun tumpul, berkilau maupun berkarat.
Seperti saat seorang anak tertatih-tatih  membawa kayu bakar, sedang teman-temannya belajar dan menyanyi dalam sebuah kelas.  Saat seorang kuli bangunan terkapar ditimpa balok kayu dan mati tanpa sepeserpun warisan untuk anaknya, karena tidak ada asuransi.  Saat sekumpulan orang terserang kejang-kejang karena sungai tempatnya mandi tercemari ferrum dari pabrik.  Saat sekumpulan nyawa berkalang tanah mempertahankan tradisi.  Saat melihat sekumpulan rumah mewah berpagar gubuk-gubuk kardus dan taman manusia compang-camping.  Semua yang dilihat membuatnya menangis.  Semua yang dilihat membuatnya semakin tua.
Tangisnya baru bisa berhenti ketika dilihatnya seorang ibu menyusui bayinya dengan penuh kasih sayang, ketika didengarnya suara adzan bergema dimana-mana.  Batinnya tersentuh, kebenciannya kepada manusia mengendap perlahan-lahan.  Apa yang dikatakan daun renta itu memang terbukti, tapi selain itu ada yang lebih dari semua kekurangan hidup ini, bahwa cinta dan kasih sayang belumlah hilang. 
Dimintanya angin menurunkan dirinya  di tengah gurun gersang,  Perjalanannya sudah berakhir.  Hanya tinggal menunggu Sang Pencipta menjemput debu-debu helaiannya.

Kadubale, Juli 1994

No comments:

Post a Comment