SEHELAI DAUN DAN EKOR BURUNG ELANG
Hari yang cerah. Langit tampak ramah. Biru dan beningnya tampak
melapisi segala permukaan. Dari lidah
gelombang sampai sayap-sayap burung camar, dari selimut pepohonan hutan sampai
ujung tengkuk pencakar langit, dari hentakan geram seorang kenek oplet sampai
lengkingan indah tangis bayi. Tidak akan
ada yang sanggup mengerti, biru itu apa dan bening itu untuk siapa.
Menakjubkan.
Tapi kanvas yang terlukis indah itu tiba-tiba ternoda oleh
darah. Dari pundak awan yang tersangkut
diatas cemara, meluncur tubuh kaku dengan sayap patah. Seekor elang terkapar di rerumputan. Sekujur tubuhnya berjubah darah. Rerumputan yang menyangga tubuhnya harus
menahan napas, karena mencium bau amis dan tajam, bau daging sobek dan sisa mesiu.
“Ya Allah! Apa yang terjadi?”
Seekor cacing mengiba sambil tertunduk lemas. Lalu digalinya tanah perlahan-lahan hingga
terciptalah sebuah lubang. Sebuah lubang kuburan.
Angin menghembus dari barat, membawa serta sehelai daun kering dan
menurunkannya dengan lembut diatas rumput.
Daun renta itu memandang sekeliling.
Sepi dan mencekam. Lalu matanya
tertumbuk pada sehelai bulu ekor yang terkapar lemas tak bertuan.
“Wahai ekor sunyi, dimanakah tuanmu berada? Kenapa keningmu bergurat
amarah? Adakah yang terusir dari jantungmu?”
Helaian ekor itu menengok dan tersenyum kecut.
“Tidak hanya jantungku yang terusir kawan, bahkan sisa air matakupun
mereka ambil. Dulu aku melayang dengan
bangga bersama tuanku. Sekarang aku
terbaring sendirian diatas kuburannya.
Daun itu menundukkan muka.
Pipinya yang keriput terlihat basah.
Suaranya terdengar sayup-sayup seperti orang kesakitan.
“Apa yang kau alami itu adalah hukum kawan. Entah itu hukum rimba atau hukum manusia,
tapi yang pasti manusia adalah tuan dari tuan kita. Sampai setua ini belum juga aku mengerti,
mengapa ambisi manusia bisa melebihi panasnya matahari, mengapa hati manusia
lebih dingin dari salju, dan mengapa keangkuhan manusia bisa lebih tinggi dari
puncak himalaya. Kalau kau bisa mengerti
itu semua, maka kematian tuanmu bukanlah apa-apa”.
Helaian ekor itu mengangguk-angguk. Mencoba meresapi apa yang telah
dikatakan oleh sang daun tua.
“Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan wahai daun perkasa?”
“Mintalah pada angin untuk mengantarmu mengembara, carilah kebenaran
dari ucapanku tadi.”
Esok harinya, sebelum pagi berkemas pulang, helaian ekor itu meminta
tumpangan pada angin yang lewat untuk membawanya pergi. Ditelusurinya waktu demi waktu, tempat demi
tempat. Apa yang dilihatnya benar-benar
membuka pengertiannya tentang sisi-sisi hidup.
Tajam maupun tumpul, berkilau maupun berkarat.
Seperti saat seorang anak tertatih-tatih membawa kayu bakar, sedang teman-temannya
belajar dan menyanyi dalam sebuah kelas.
Saat seorang kuli bangunan terkapar ditimpa balok kayu dan mati tanpa
sepeserpun warisan untuk anaknya, karena tidak ada asuransi. Saat sekumpulan orang terserang kejang-kejang
karena sungai tempatnya mandi tercemari ferrum dari pabrik. Saat sekumpulan nyawa berkalang tanah
mempertahankan tradisi. Saat melihat
sekumpulan rumah mewah berpagar gubuk-gubuk kardus dan taman manusia
compang-camping. Semua yang dilihat
membuatnya menangis. Semua yang dilihat
membuatnya semakin tua.
Tangisnya baru bisa berhenti ketika dilihatnya seorang ibu menyusui
bayinya dengan penuh kasih sayang, ketika didengarnya suara adzan bergema
dimana-mana. Batinnya tersentuh,
kebenciannya kepada manusia mengendap perlahan-lahan. Apa yang dikatakan daun renta itu memang
terbukti, tapi selain itu ada yang lebih dari semua kekurangan hidup ini, bahwa
cinta dan kasih sayang belumlah hilang.
Dimintanya angin menurunkan dirinya
di tengah gurun gersang,
Perjalanannya sudah berakhir. Hanya tinggal menunggu
Sang Pencipta menjemput debu-debu helaiannya.
No comments:
Post a Comment