Pengumuman kenaikan BBM tadi malam bukan seperti petir di siang
bolong. Tapi ibarat palu godam menghantam
detak jantung penduduk negeri ini. Saat
para tukang ojek masih harus mengais rejeki sampai petang, saat sopir angkot
melarikan mobilnya bak flash gordon
memburu penumpang, saat para nelayan terombang ambing lautan garang,
saat tukang sayur keliling terengah-engah di jalanan yang lengang. Saat itu pula para penguasa menabuh
genderang. 2000 perak setiap liter
adalah ongkos lebih yang harus dibayarkan oleh para pejuang kehidupan itu.
Menaikkan harga BBM seperti menjadi tradisi. Alasannya selalu klasik untuk mengurangi
subsidi. Apakah memang tidak ada solusi
sama sekali atau memang ini adalah jalan tercepat agar Negara tidak terbebani? Hanya cukong minyak dan Tuhan yang tahu. Yang sering kita dengar adalah, Negara ini
kekurangan stok BBM sehingga harus selalu impor. Harga impor sangat tinggi dan dijual di dalam
negeri dengan sangat rendah. Logika saya
kemudian berputar. Indonesia adalah penghasil CPO nomor wahid di
dunia. Banyak ahli yang mengatakan bahwa
CPO bisa diolah menjadi biodiesel.
Indonesia juga penghasil singkong yang tak tertandingi. Singkong bisa diolah menjadi bioethanol
sebagai substitusi bensin. Kenapa dari
tahun ke tahun selalu mengandalkan minyak fosil yang jelas-jelas menggerogoti
kesehatan bumi ini? Entahlah. Lagi-lagi hanya cukong minyak dan Tuhan yang
tahu.
Para pemimpin yang terhormat. Energi memang napas kehidupan. Energi memang sepenting urat nadi. Tapi jangan
sampai urusan energi ini dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menghabiskan
sisa-sisa energi bangsa ini. Segeralah
cari solusi yang tidak lagi instant.
Bergegaslah cari alternatif BBM yang terbaharukan. Jangan tergantung dengan lingkaran kartel minyak
dunia. Bapak-bapak diserahi tanggung
jawab 250 juta nyawa. Bapak-bapak
diberikan amanah mengelola sumberdaya yang ada.
Berikan kami ketenangan hidup di negeri ini. Cukupkan makan kami. Nyamankan tempat tidur kami. Beri anak-anak kami pendidikan tinggi. Sembuhkan
sakit kami. Jangan mau dipermainkan oleh bangsa lain. Kalau kata Iwan Fals, anda dipilih bukan
dilotere. Jadi jangan jadikan kehidupan
kami seperti mainan monopoli.
Jangan lantas kemudian berkata. Tidak perlu takut, kami naikkan BBM hari ini tapi kalian kami
sediakan kartu-kartu sakti. Itu terasa semakin menyakiti. Lha wong, sebagian
besar orang tidak tahu apa makna dari kartu-kartu itu. Kita hidup di dunia nyata wahai Bapak-bapak. Tidak perlu berjanji itu ini. Memang kita tidak bisa melawan. Katanya itu sudah sesuai undang-undang. Apalagi Bapak-bapak punya alat-alat
perang. Janji Bapak untuk berantas mafia
minyak belum lagi jalan. Tapi Bapak
sudah menambah berat beban. Janji Bapak
untuk menjadikan Negara ini poros maritim dunia. Tapi Bapak malah membuat kapal-kapal nelayan
tidak jalan.
Kami bukan orang yang suka mengeluh. Karena mengeluh itu dibenci Tuhan. Tapi kami merasa sangat tertekan. Kenaikan harga BBM itu ekornya sangat panjang. Dari beras sampai tomat dan kentang. Dari
ongkos angkutan sampai seragam dan pakaian. Harganya pasti merangkak ke
bulan. Jika kami kekurangan gizi. Sakit pasti akan mengintai kami. Mungkin kartu Bapak ada gunanya juga nanti.
No comments:
Post a Comment