Karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan. Saya telah menjelajahi pulau-pulau besar di
Indonesia. Jika diibaratkan, Jawa adalah gadis cantik molek yang bersolek
habis-habisan, Sumatera adalah kembang
desa yang sedang dipingit, Kalimantan seperti janda kembang yang dilupakan, Sulawesi
laksana gadis kota yang lupa berdandan dan Papua ibarat gadis perawan yang tak
jua dipinang orang. Saya tidak bermaksud
stereotip atau melecehkan. Tapi ini
adalah gambaran ketidakadilan. Jawa adalah
Indonesia, Sumatera adalah Indonesia, Kalimantan adalah Indonesia, Sulawesi
adalah Indonesia, Papua adalah Indonesia.
Tidak seharusnya daerah yang satu tertinggal dari daerah yang lain. Seharusnya jika jalanan pantura setiap tahun
diperbaiki, begitu pula trans Sumatera, begitu pula trans Kalimantan, begitu
pula trans Sulawesi, begitu pula trans Papua. Betapa menyedihkan. Cobalah anda berkendara
dari Palangkaraya ke Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah yang merupakan bagian
dari jalan trans Kalimantan. Tidak hanya
lubang yang menganga, tapi mulut andapun juga akan ternganga. Cobalah berkendara dari Bone Bolango ke
Pohuwato di Gorontalo, dari Palu ke Morowali di Sulawesi Tengah, dari Bengkulu
ke Musi Rawas di Sumatera Selatan, dari Sorong ke Manokwari di Papua Barat, lubang
dan aspal saling klaim sebagai yang terbanyak jumlahnya. Bahkan ada yang masih baru dibuka sehingga
belum berupa badan jalan. Cobalah anda
pergi ke kampung-kampung di hilir Padang 12 yang terkenal mistis di kabupaten
Ketapang Kalimantan Barat itu, niscaya anda akan masuk ke jaman kegelapan. Karena memang gelap gulita jika malam tiba. Tidak ada listrik di sana. PLN enggan menginjakkan kaki di daerah
terpencil itu karena pasti tak menguntungkan.
Pertanyaan saya, apakah negara perlu untung untuk mensejahterakan
warganya?
Saya berusaha memahami bahwa kedekatan geografi dengan
ibukota negara adalah titik pangkalnya.
Semakin dekat dengan Jakarta berarti pembangunan infrastruktur boleh
menggila. Sementara semakin jauh berarti
pengembangan infrastruktur hanya pikiran gila.
Tapi saya tetap tidak paham. Bukankah organ tubuh apapun namanya itu sama
pentingnya? Tidak berarti semakin jauh
dari jantung berarti semakin tidak berguna bukan? Saya mencoba berpikir bahwa semua itu karena
otonomi. Sebagian besar urusan daerah
sudah diserahkan ke daerah. Sehingga
daerah yang miskin tidak berhak untuk menikmati jalan yang mulus, kampung yang
terang, puskesmas yang bagus, dan sekolah yang baik. Tapi tidak juga. Itu bukan alasan yang bagus. Semua penduduk negeri ini mendapatkan hak dan
perlindungan yang sama. Berdasarkan Undang-Undang
Dasar yang sama. Di bawah kibasan sayap
Garuda yang sama. Mempunyai kebanggaan
Sang Saka yang sama. Tidak selayaknya satu
tempat bergeliat maju, sedangkan tempat lain berteriak kesakitan karena
nyilu dan pilu.
Negara harus berbuat adil terhadap warganya. Sumatera Selatan sempat mati lampu
seharian. Sumatera Utara byar pet tak
kunjung berakhir. Sementara Mal Taman
Anggrek berfoya-foya setiap malam di display raksasanya. Penduduk Riau terengah-engah menahan sesak
napas karena asap. Sementara
refineri-refineri dengan pongahnya menggilas jutaan ton sawit tanpa peduli
asalnya dari mana. Rakyat Papua
kebingungan karena harga semen lebih mahal dari emas permata. Sementara karst-karst di Jawa diluluh
lantakkan oleh pabrik-pabrik modern. Ujung
ke ujung Jawa mempunyai jaringan rel ganda.
Sementara anak-anak Papua tidak pernah tahu bagaimana rupa kereta. Saya tidak bilang ini ironis. Ini lebih daripada sadis. Saya cinta negeri ini. Lebih dari negeri ini mencintai saya. Saya tidak ingin negeri ini menyakiti anak-anaknya. Saya tidak ingin negeri ini lupa akan
janjinya. Jangan telantarkan saudara-saudara
kita di nun jauh sana.
No comments:
Post a Comment