Monday, 17 November 2014

Lupakah Kau Padaku Indonesia?

Karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan.  Saya telah menjelajahi pulau-pulau besar di Indonesia. Jika diibaratkan, Jawa adalah gadis cantik molek yang bersolek habis-habisan,  Sumatera adalah kembang desa yang sedang dipingit, Kalimantan seperti janda kembang yang dilupakan, Sulawesi laksana gadis kota yang lupa berdandan dan Papua ibarat gadis perawan yang tak jua dipinang orang.  Saya tidak bermaksud stereotip atau melecehkan.  Tapi ini adalah gambaran ketidakadilan.  Jawa adalah Indonesia, Sumatera adalah Indonesia, Kalimantan adalah Indonesia, Sulawesi adalah Indonesia, Papua adalah Indonesia.  Tidak seharusnya daerah yang satu tertinggal dari daerah yang lain.  Seharusnya jika jalanan pantura setiap tahun diperbaiki, begitu pula trans Sumatera, begitu pula trans Kalimantan, begitu pula trans Sulawesi, begitu pula trans Papua.  Betapa menyedihkan. Cobalah anda berkendara dari Palangkaraya ke Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah yang merupakan bagian dari jalan trans Kalimantan.  Tidak hanya lubang yang menganga, tapi mulut andapun juga akan ternganga.  Cobalah berkendara dari Bone Bolango ke Pohuwato di Gorontalo, dari Palu ke Morowali di Sulawesi Tengah, dari Bengkulu ke Musi Rawas di Sumatera Selatan, dari Sorong ke Manokwari di Papua Barat, lubang dan aspal saling klaim sebagai yang terbanyak jumlahnya.  Bahkan ada yang masih baru dibuka sehingga belum berupa badan jalan.  Cobalah anda pergi ke kampung-kampung di hilir Padang 12 yang terkenal mistis di kabupaten Ketapang Kalimantan Barat itu, niscaya anda akan masuk ke jaman kegelapan.  Karena memang gelap gulita jika malam tiba.  Tidak ada listrik di sana.  PLN enggan menginjakkan kaki di daerah terpencil itu karena pasti tak menguntungkan.  Pertanyaan saya, apakah negara perlu untung untuk mensejahterakan warganya?

Saya berusaha memahami bahwa kedekatan geografi dengan ibukota negara adalah titik pangkalnya.  Semakin dekat dengan Jakarta berarti pembangunan infrastruktur boleh menggila.  Sementara semakin jauh berarti pengembangan infrastruktur hanya pikiran gila.   Tapi saya tetap tidak paham.  Bukankah organ tubuh apapun namanya itu sama pentingnya?  Tidak berarti semakin jauh dari jantung berarti semakin tidak berguna bukan?  Saya mencoba berpikir bahwa semua itu karena otonomi.  Sebagian besar urusan daerah sudah diserahkan ke daerah.  Sehingga daerah yang miskin tidak berhak untuk menikmati jalan yang mulus, kampung yang terang, puskesmas yang bagus, dan sekolah yang baik.  Tapi tidak juga.  Itu bukan alasan yang bagus.  Semua penduduk negeri ini mendapatkan hak dan perlindungan yang sama.  Berdasarkan Undang-Undang Dasar yang sama.  Di bawah kibasan sayap Garuda yang sama.  Mempunyai kebanggaan Sang Saka yang sama.  Tidak selayaknya satu tempat bergeliat maju, sedangkan tempat lain berteriak kesakitan karena nyilu dan pilu. 


Negara harus berbuat adil terhadap warganya.  Sumatera Selatan sempat mati lampu seharian.  Sumatera Utara byar pet tak kunjung berakhir.  Sementara Mal Taman Anggrek berfoya-foya setiap malam di display raksasanya.  Penduduk Riau terengah-engah menahan sesak napas karena asap.  Sementara refineri-refineri dengan pongahnya menggilas jutaan ton sawit tanpa peduli asalnya dari mana.  Rakyat Papua kebingungan karena harga semen lebih mahal dari emas permata.  Sementara karst-karst di Jawa diluluh lantakkan oleh pabrik-pabrik modern.  Ujung ke ujung Jawa mempunyai jaringan rel ganda.  Sementara anak-anak Papua tidak pernah tahu bagaimana rupa kereta.  Saya tidak bilang ini ironis.  Ini lebih daripada sadis.  Saya cinta negeri ini.  Lebih dari negeri ini mencintai saya.  Saya tidak ingin negeri ini menyakiti anak-anaknya.  Saya tidak ingin negeri ini lupa akan janjinya.  Jangan telantarkan saudara-saudara kita di nun jauh sana.  

No comments:

Post a Comment